<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ciget Web Blog</title>
	<atom:link href="http://ciget95.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ciget95.wordpress.com</link>
	<description>Long life education in my principle</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Dec 2011 14:09:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ciget95.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ciget Web Blog</title>
		<link>http://ciget95.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ciget95.wordpress.com/osd.xml" title="Ciget Web Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ciget95.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dengan Niat, Amal Dunia Jadi Ladang Akhirat</title>
		<link>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/dengan-niat-amal-dunia-jadi-ladang-akhirat/</link>
		<comments>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/dengan-niat-amal-dunia-jadi-ladang-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 14:04:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kara07</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciget95.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya. Allah Ta’ala telah menggariskan bahwa kehidupan umat manusia bukan hanya sekali, namun dua kali. Kehidupan dunia yang fana sebagai awal dari kehidupan dan akan dilanjutkan dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sukses [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=95&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENDAHULUAN<br />
Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.<br />
Allah Ta’ala telah menggariskan bahwa kehidupan umat manusia bukan hanya sekali, namun dua kali. Kehidupan dunia yang fana sebagai awal dari kehidupan dan akan dilanjutkan dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sukses anda di dunia belum tentu berkelanjutan hingga di akhirat. Namun sebaliknya, sukses di akhirat menjadi Anda lupa akan kegagalan selama hidup di dunia, bagaimanapun beratnya. Apalagi bila Anda ternyata hidup di dunia sukses dan di akhirat surga menjadi milik Anda.</p>
<p><span id="more-95"></span><br />
ANTARA SIAL DUNIA DAN BERKAH AKHIRAT<br />
Di dunia ini banyak ditemukan pasar, tempat orang mengais kesuksesan di dunia. Dan tentunya ada pula pasar-pasar akhirat, tempat menaburkan benih-benih pahala. Karenanya tidak layak bila kesibukan mewujudkan sukses di dunia, melalaikan Anda dar i akhirat. Terlalai dari akhirat karena sibuk menumpuk dunia berarti sengsara selamanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Semoga kesengsaraan menimpa para pemuja dinar, dirham, dan baju sutera (harta kekayaan), bila diberi ia merasa senang, dan bila tak diberi, ia menjadi benci. Semoga ia menjadi sengsara dan terus menerus menderita. Dan bila ia tertusuk duri, semoga tiada yang sudi mencabut duri itu darinya. (HR. Al-Bukhari).<br />
Sebaliknya, lalai dari dunia karena sibuk membangun akhirat berarti sukses di dunia akhirat.<br />
Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah (berkuasa untuk) melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap urusan.” (QS. at-Thalaq / 65 :2-3)<br />
Selanjutnya terserah kepada Anda, ingin sukses dunia akhirat atau sengsara selamanya, walau hidup di lumbung harta benda. Sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu berkata : Kehidupan dunia bergegas menjauh, sedang akhirat kian mendekat, dan masing-masing memiliki pengikut, maka jadilah pengikut akhirat, serta janganlah engkau menjadi pengikut dunia. Karena sejatinya sekarang ini adalah waktu untuk beramal tanpa ada hisab, sedangkan esok (di akhirat) adalah waktu hisab dan bukan beramal. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 8/155).<br />
DENGAN KETULUSAN NIAT, ANDA PASTI BERUNTUNG<br />
Suatu yang wajar bila dalam suatu perniagaan ada yang beruntung dan ada pula yang merugi. Namun keuntungan adalah cita-cita setiap insan, termasuk Anda. Bukankah demikian saudaraku ? karenanya, sudikah Anda saya tunjukkan kepada kiat-kiat meraih keuntungan dan tidak pernah buntung ? sukses di dunia dengan untung segunung dan di akhirat keuntungan Anda tiada berujung ?<br />
Tahukah Anda kiat apakah itu ? Ketahuilah, kiat itu adalah dengan menjaga hati Anda sehingga selalu tulus karena Allah atas apapun yang Anda kerjakan, baik ibadah ataupun amal kebiasaan Anda. Dengan niat yang baik, apalagi tulus karena Allah, amal kebiasaan Anda bernilai ibadah, tanpa mengurangi sedikit pun dari fungsi amal kebiasaan Anda. Demikianlah dahulu para ulama menjalani kehidupan mereka. Sahabat Mu’az bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : Adapun aku, maka aku tidur dan juga shalat malam, namun dari tidurku aku mengharapkan (bisa meraih) apa yang aku harapkan (bisa diraih) dari shalat malamku. (Muttafaqun ’alaih).<br />
Akan tetapi, sebaliknya, karena lalai dari niat, maka bisa menyebabkan amal ibadah Anda hanya bernilai kebiasaan dan rutinitas semata. Dahulu dinyatakan :<br />
Amal ibadah orang yang lalai hanyalah rutinitas, namun rutinitas orang yang waspada semuanya bernilai ibadah (Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah oleh Syaikh Muhamad Ibnu Utsaimin rahimahullah, hlm. 9).<br />
Subhanallah, walaupun Anda tidur pulas hingga mendengkur, namun itu tidak menghalangi pahala mengalir ke lembaran-lembaran amal Anda. Dengan demikian, indahnya dunia dapat Anda nikmati dan pahala akhirat pun terus mengalir tiada henti. Enak bukan ?<br />
STATUS AMALAN ANDA SELARAS DENGAN NIAT ANDA<br />
Setelah mengetahui bahwa dengan niat, rutinitas Anda dapat bernilai ibadah, mungkin Anda berkata, “Apabila benar demikian, betapa mudahnya jalan menuju surga ?” betul saudaraku, namun walau demikian, ternyata selama ini Anda berjalan di tempat sehingga tetap saja jauh dari pintu surga. Untuk membuktikannya, perkenankan saya bertanya, ”Berapa amalankah yang Anda kerjakan ketika Anda membaca tulisan saya ini ?”<br />
Tahukah anda, bahwa sejatinya saat ini Anda sedang mengerjakan beratus-ratus amalan dan mungkin beribu-ribu amalan ? Anda terkejut keheranan dan bahkan tidak percaya ?<br />
Untuk membuktikannya, izinkan saya kembali bertanya, ”Apakah saat ini Anda sedang berzina ? Apakah saat ini Anda sedang memakan daging babi ? Apakah saat ini Anda sedang menyembah patung ? Apakah saat ini Anda sedang mencari sanjungan (riya’ dan sum’ah) ? Apakah saat ini Anda sedang memakan riba ? Apakah saat ini sedang minum khamer ? Dan masih banyak lagi pertanyaan serupa yang sudah pasti jawabannya adalah, ”Tidak”. Walau demikian, selama ini Anda tidak menyadari bahwa Anda sedang mengerjakan semua amalan tersebut ketika Anda membaca tulisan ini atau beraktifitas lainnya. Bila demikian adanya, tentu Anda tidak mendapatkan pahala darinya, padahal Anda telah melakukannya.<br />
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, ”Yang benar, meninggalkan suatu amalan tanpa disertai niat tidak mendapatkan pahala. Anda hanya mendapat pahala bila Anda dengan sadar meninggalkan suatu hal. Sehingga barang siapa di hatinya tidak terbetik sama-sekali tentang suatu amal maksiat, tentu tidak sama dengan orang yang mengingatnya, lalu ia menahan diri darinya karena takut kepada Allah.” (Fathul Bari 1/15).<br />
Penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah ini menggambarkan betapa pentingnya menghadirkan niat baik dalam setiap aktifitas Anda. Tanpa perlu waktu, tenaga atau bekal apapun, lautan pahala menjadi milik Anda. Semua itu dengan mudah Anda gapai hanya berbekal niat baik dalam hati Anda.<br />
Ibnul Qayyim rahimahullah lebih jauh menjelaskan, “Sungguh tujuan dan keyakinan hati diperhitungkan pada setiap perbuatan, dan ucapan, sebagaimana diperhitungkan pula pada amal kebaikan dan ibadah. Tujuan, niat dan keyakinan dapat menjadikan satu amalan halal atau haram, benar atau salah, ketaatan atau maksiat. Sebagaimana niat dalam amal ibadah menjadikannya dihukumi wajib atau Sunnah, haram atau halal, dan benar atau salah. Dalil-dalil yang mendasari kaedah ini terlalu banyak untuk disebutkan di sini” (I’lamul Muwaqi’in, 3/118)<br />
Hadits berikut adalah salah satu dalil yang melandasi penjelasan ulama di atas :<br />
Sesungguhnya setiap amalan pastilah disertai dengan niat. Dan setiap pelaku amalan hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka orang yang berhijrah karena menaati perintah Allah dan rasul-Nya, maka ia mendapatkan pahala dari Allah karenanya; dan orang yang berhijrah karena urusan dunia, atau wanita yang hendak ia nikahi, maka hanya itulah yang akan ia dapatkan (tidak mendapatkan pahala di akhirat). (Muttafaqun alaih)<br />
MENGENAL DUA MACAM AMALAN<br />
Untuk dapat menjadikan setiap aktifitas Anda bernilai ibadah, maka terlebih dahulu Anda harus mengenali berbagai aktifitas Anda dan niat-niat Anda pada setiap amalan. Para Ulama menjelaskan bahwa secara global amalan terbagi menjadi dua :<br />
1. Amalan Yang Tidak Sah Bila Tanpa Niat.<br />
Contoh amalan jenis ini ialah berbagai amal ibadah murni, seperti shalat, puasa, haji, wudhu dan lain sebagainya. Andai Anda melakukan amal ini tanpa disertai dengan niat, niscaya amalan Anda tertolak dan tidak mendapatkan pahala. Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<br />
Tiada puasa bagi orang yang tidak membulatkan niatnya untuk berpuasa sebelum terbit fajar. (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan lainnya).<br />
2. Amalan Yang Sah Walau Tanpa Niat<br />
Berbagai amal ibadah yang mendatangkan manfaat bagi pelakunya atau orang lain adalah contoh nyata dari amalan jenis ini. Misalnya menolong orang kesusahan, menyambung tali silaturahmi, sedekah, dan yang serupa. Dan diantara contoh amalan ini ialah amalan dalam bentuk meninggalkan hal-hal yang dilarang dalam syariat. Misalnya, bersuci dari najis, mengembalikan barang rampasan, membayar hutang, dan yang semisal dengannya. Bila Anda mengamalkan amalan jenis ini tanpa niat, maka amalan Anda sah alias menggugurkan kewajiban, namun Anda tidak mendapatkan pahala darinya.<br />
BEDA ANTARA SAH DAN DITERIMA<br />
Mungkin Anda bertanya, sebenarnya apa sih perbedaan antara sah dengan diterima ? Ketahuilah saudaraku, bahwa setiap amalan yang diterima pastilah sah, namun belum tentu amalan yang sah diterima Allah Ta’ala. Karenanya, walaupun ibadah orang-orang munafiq sah di dunia, namun di akhirat tidak diterima. Sebagaimana shalat orang yang mendatangi dukun sah di dunia, namun di akhirat tidak mendapatkan pahala, alias tidak diterima.<br />
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya sesuatu kepadanya, maka tidak akan diterima satu shalatpun darinya selama empat puluh hari. (HR. Muslim).<br />
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Maksud hadits ini, shalatnya tidak mendapat pahala, walaupun sah dan bisa menggugurkan kewajiban si pelaku dan tidak perlu diulang.” (Syarah Shahih Muslim oleh Imam an-Nawawi rahimahullah , 14/227).<br />
DUA MACAM NIAT<br />
Para ulama’ juga menjelaskan bahwa Anda dituntut untuk menghadirkan dua jenis niat, pada setiap kali beramal :<br />
1. Niat menjalankan amalan alias mengamalkan amalan dengan sadar.<br />
Niat macam ini merupakan syarat sah suatu amalan. Niat dengan kategori inilah yang biasanya dibahas dalam kitab-kitab fiqih. Bila Anda berenang di kolam renang, namun Anda lupa bila Anda sedang junub, maka walaupun sekujur tubuh Anda telah basah kuyup sebagaimana orang mandi junub, namun tetap saja janabah Anda belum sirna. Karena Anda melupakan niat yang merupakan syarat sah mandi junub.<br />
2. Niat menjalankan amalan karena Allah Ta’ala (ikhlas).<br />
Dengan niat macam ini Anda mendapatkan pahala dari amalan ibadah Anda.<br />
Imam as Suyuthi rahimahullah berkata : “Sebagian ulama terkini menegaskan bahwa ikhlas adalah suatu yang lebih dari sebatas niat. Keikhlasan tidaklah mungkin terwujud tanpa niat, namun sebaliknya niat bisa saja terwujud walaupun tanpa ikhlas. Sedangkan para Ulama’ ahli fikih biasanya hanya membicarakan sebatas niat, dan berbagai hukum yang mereka sebutkan hanya berkisar padanya. Adapun keikhlasan, maka itu hanya Allah yang mengetahuinya.” (al-Asybah wan Nazhair, hlm. 20)<br />
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya para Ulama telah sepakat bahwa suatu amalan yang tidak mungkin diamalkan melainkan sebagai ibadah, tidak sah kecuali dengan niat. Berbeda dengan amalan yang kadang dilakukan sebagai amal ibadah dan di lain kesempatan sebagai suatu rutinitas, seminal menunaikan amanat dan membayar piutang.” (Majmu’ Fatawa, 18/259)<br />
Niat jenis ini merupakan syarat diterimanya setiap amalan. Sehingga amal apapun tidak mungkin diterima dan mendapatkan pahala bila dilakukan dengan tidak ikhlas karena Allah Ta’ala.<br />
AMALAN YANG DAPAT BERNILAI IBADAH DENGAN NIAT<br />
Amalan yang dapat memiliki nilai ibadah karena Anda melakukan dengan niat yang baik ialah amalan rutinitas yang baik. Bila Anda melakukan amal rutinitas dengan niat yang baik, maka amalan tersebut bernilai ibadah. Namun bila Anda melakukannya karena sebatas rutinitas semata, tanpa memaksudkannya untuk meraih pahala, maka Anda tidak mendapatkan pahala darinya.<br />
Dan yang dimaksud bernilai ibadah ialah Anda mendapatkan pahala dari rutinitas tersebut, tanpa mengurangi fungsi dan manfaat rutinitas Anda itu. Sebagai contoh ; berhubungan badan dengan istri, adalah cara Anda untuk memenuhi kebutuhan biologis Anda. Namun bila Anda membubuhkan niat demi menjaga diri Anda dan istri Anda dari maksiat, tentu amalan ini mendatangkan pahala bagi Anda, tanpa mengurangi kepuasan Anda dari hubungan badan tersebut.<br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Dan dengan melampiaskan syahwat birahimu engkau bisa mendapatkan pahala”. Spontan para Sahabat bertanya keheranan, ”Wahai Rasulullah, mungkinkah dengan melampiaskan syahwat birahi, kita mendapatkan pahala karenanya ?” Rasulullah balik bertanya, ”Apa pendapat kalian bila ia melampiaskannya pada perbuatan haram, bukankah ia berdosa ? Demikian pula sebaliknya bila ia melampiaskannya di jalan yang halal, maka tentu ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)<br />
Imam Nawawi rahimahullah berkata, ”Pada hadits ini terdapat dalil bahwa dengan niat baik, amalan mubah dapat bernilai ibadah. Hubungan badan-misalnya- bernilai ibadah bial dilakukan dengan niat memenuhi hak istri, atau memperlakukannya dengan cara yang baik sebagaimana yang Allah perintahkan. Demikian juga dengan tujuan mendapatkan keturunan yang shaleh, atau menjaga dirinya atau istrinya dari perbuatan haram. Dan bisa juga dengan maksud melindungi keduanya dari memandang hal haram, membayangkan, atau menginginkannya atau niat-niat baik yang lain.” (Syarah Shahih Muslim oleh An Nawawi rahimahullah 7/92)<br />
Kalau ini baru Anda ketahui, berarti selama ini, Anda rugi besar, karena begitu banyak amal rutinitas Anda yang dapat mengalirkan pahala, namun selalu Anda sia-siakan. Setiap pagi Anda makan dan minum, namun hanya sekedar menuruti selera perut semata. Andai Anda membubuhkan niat agar dapat kembali kuat sehingga bisa menjalankan ibadah, tentu segunung pahala dapat menjadi milik Anda.<br />
Dengan demikian, niat-niat yang selama ini mendorong Anda melakukan berbagai rutinitas Anda, seakan-akan sia-sia belaka. Kepuasan biologis, kesenangan, refresing dan lainnya pastilah tercapai dari rutinitas Anda, baik Anda meniatkannya atau tidak. Namun tidak demikian dengan pahala dan keridhaan Allah Ta’ala. Tanpa niat yang baik nan tulus, Anda tidak mungkin meraihnya.<br />
Sekali lagi renungkan ! Anda memberi uang belanja kepada istri, tentu membuat mereka senang dan akhirnya setia kepada Anda. Namun bila Anda membubuhkan niat menjalankan kewajiban yang telah diamanatkan oleh Allah kepada Anda sebagai suami, tentu ini akan menjadi amal ketaatan yang bernilai tinggi. Disamping istri Anda tetap senang dan dengan izin Allah semakin setia kepada Anda.<br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya tidaklah engkau membelanjakan suatu harta demi mendapatkan keridhaan Allah, melainkan engkau mendapat pahala darinya. Sampai pun sesuap makanan yang engkau berikan kepada istrimu. (Muttafaqun ’alaih).<br />
Bila demikian, manakah yang lebih menguntungkan, memberi nafkah hanya sebagai rutinitas belaka, atau membubuhkan niat mengharap keridhaan Allah Ta’ala padanya ? Jawabannya, tentu yang kedua.<br />
MENGGABUNGKAN NIAT DUNIA DAN AKHIRAT<br />
Setelah membaca keterangan diatas, mungkin Anda menduga bahwa Anda tidak dibenarkan untuk menggabungkan niat menikmati rutinitas dengan mencari keridhaan Allah Ta’ala ?<br />
Tidak demikian saudaraku! Menggabungkan antara keduanya adalah sah-sah saja, namun tentu nilai ibadah Anda pun berbeda. Semakin Anda berhasil memurnikan niat pada rutinitas Anda hanya karena Allah, semakin besar pula pahala Anda. Namun sebaliknya semakin besar keinginan Anda untuk mewujudkan kepentingan pribadi Anda, maka semakin kecil pula nilai ibadah amalan Anda. Renungkan kisah berikut dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :<br />
Ada seorang lelaki hendak menjenguk saudaranya yang berdomisili di kampung lain. Maka Allah memerintahkan seorang malaikat untuk mencegatnya di tengah jalan. Tatkala lelaki itu melintasi malaikat tersebut, malaikat bertanya, ”Kemanakah engkau hendak pergi ?” Ia menjawab, ”Aku hendak menjenguk saudaraku di kampung ini.” Kembali malaikat bertanya, ”Apakah engkau memiliki sesuatu kepentingan yang hendak engkau selesaikan darinya ?” Kembali Ia menjawab, ”Tidak, hanya saja aku mencitainya karena Allah Ta’ala.” Mendengar jawaban itu, malaikat itupun berkata, ”Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengkabarkan kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)<br />
Berkunjung ke sahabat atau saudara, pasti mendatangkan banyak manfaat di dunia. Namun tatkala lelaki diatas tidak memiliki niat lain dari kunjungannya terhadap saudaranya itu selain karena upaya melanggengkan hubungannya yang tulus karena Allah Ta’ala, maka Allah-pun mencintainya. Suatu pahala yang sangat besar yang sangat didamba oleh setiap insan yang beriman kepada Allah Ta’ala, termasuk Anda.<br />
Dan dari alur kisah hadits diatas, dapat dipahami bahwa andai lelaki itu memiliki kepentingan lain yang tidak bertentangan dengan ketulusan cintanya, tentu ia tidak mendapatkan keutamaan tersebut.<br />
PENUTUP<br />
Apa yang telah saya paparkan pada tulisan sederhana in tentunya hanya sekelumit dari pembahasan tentang niat. Terlalu banyak pembahasan tentang niat yang seyogyanya kita ketahui, terlebih-lebih kiat-kiat mewujudkan niat yang tulus dan benar dalam hidup nyata. Hati Anda walau terletak dalam dada Anda, namun tidak mudah untuk menundukkannya. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata : Aku tidak pernah membenahi suatu hal yang lebih berat dibanding jiwaku sendiri. Kadang kala patuh dengan keinginanku dan sering pula tidak.”<br />
Ya Allah, Wahai Pembolak-balik hati, tetapkanlah niat kami diatas ketaatan kepada-Mu. Amiin<br />
Sumber: Majalah As Sunnah edisi 11/thn. XIV/Rabiul Tsani 1431H/Februari 2011M</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ciget95.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ciget95.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ciget95.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ciget95.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ciget95.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ciget95.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ciget95.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ciget95.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ciget95.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ciget95.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ciget95.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ciget95.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ciget95.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ciget95.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=95&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/dengan-niat-amal-dunia-jadi-ladang-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce2e6bd6913c9ee34316ce4a4504a53e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kara07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IKHLAS DALAM BERAMAL</title>
		<link>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/ikhlas-dalam-beramal-2/</link>
		<comments>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/ikhlas-dalam-beramal-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 14:01:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kara07</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciget95.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Allah berfirman dalam S.Al Bayyinah : 5; “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya, secara hanif.” ” Allah tidak menerima amal, kecuali yang dikerjakan dengan ikhlas karena Dia semata, dan dimaksudkan untuk mencari ridho-Nya.” ( HR. Ibnu Majah ). Masih melekat dalam ingatan kita mengenai kisah 3 pemuda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=92&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Allah berfirman dalam S.Al Bayyinah : 5;<br />
“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada<br />
Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya, secara hanif.”<br />
” Allah tidak menerima amal, kecuali yang dikerjakan dengan ikhlas karena<br />
Dia semata, dan dimaksudkan untuk mencari ridho-Nya.” ( HR. Ibnu Majah ). Masih melekat dalam ingatan kita mengenai kisah 3 pemuda yang<br />
terperangkap dalam gua yang digunakan untuk berteduh.</p>
<p><span id="more-92"></span><br />
Salah seorang diantara mereka berkata, “Sungguh tidak ada yang dapat<br />
menyelamatkan kalian dari bahaya ini, kecuali jika kalian berdo’a kepada<br />
Allah SWT dengan menyebutkan amal -amal shalih yang pernah kalian<br />
perbuat”.</p>
<p>Maka bermunajatlah mereka:<br />
Seorang dari mereka berdoa: “Ya Allah, aku memepunyai orang tua yang sudah<br />
renta, kebiasaanku, mendahulukan mereka minum susu sebelum aku berikan<br />
kepada anak istriku dan budakku. Suatu hari, aku pergi mencari kayu bakar<br />
dan pulang terlambat sampai keduana tertidur. Maka akupun memerah susu<br />
utnuk persediaan minum keduanya. Aku pun enggan untuk membangunkannya.<br />
Meskipin demikian aku tidak memberikan susu tsb kepada keluargaku/budakku<br />
sebelum keduanya minum. Aku menunggu keduanya terbangun hingga terbit<br />
fajar, sedangkan anak-anakku menangis tersisak-isak meminta susu sambil<br />
memegangi kakiku. Ketika keduanya terbangun, kuberikan susu itu”.<br />
“Ya Allah jika engkau jika aku berbuat itu karena mengharap ridha-Mu, maka<br />
geserkanlah batu yang menutupi gua ini”. Kemudian bergeserlah sedikit batu<br />
itu, namun mereka belum bisa keluar.<br />
Orang kedua melanjutkan doanya: “Ya ALlah, sesunggguhnya aku memepunyai<br />
saudara sepupu yang aku cintai.Aku selalu ingin berbuat zina dengannya,<br />
tetapi ia selalu menolaknya. Beberapa tahun kemudian , ia tertimpa<br />
kesulitan. Ia pun datang untuk meminta bantuanku dan aku berikan 120 dinar<br />
dengan syarat menyerahkan dirinya kapan saja aku mau. Sehingga suatu hari<br />
aku memliki kesempatan dengannya ia berkata, ‘Takutlah kamu kepada ALlah.<br />
Janganlah kamu sobek darahku kecuali dengan jalan yang benar (nikah)’.<br />
Mendengar yang demikian aku meninggalkannya dan merelakan emas yang aku<br />
berikan, padahal dia adalah yang sangat aku cintai. “Ya Allah, jika<br />
perbuatan itu karena mengaharap ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang<br />
menimpa gua ini”. Kemudian bergeser, namun belum bisa juga keluar.<br />
Orang yang ketiga melanjutkan doanya:”Ya Allah, aku mempekerjakan beberapa karyawan dan digaji dengan sempurna, kecuali ada seseorang yang<br />
meninggalkan aku dan tidak mau mengambil gajinya terlebih dahulu. Kemudian<br />
gaji itu aku kembangkan sehingga menjadi banyak. Selang beberpa tahun dia<br />
datang dan berkata, berikanlah gajiku. Aku berkata,’Semua yang kamu lihat<br />
baik unta, sapi, kambing maupun budak yang menggembalanya, semuanya<br />
gajimu’. kemudian diapun mengambil semuanya itu dan tidak meninggalkannya<br />
sedikitpun. “Ya Allah jika perbuatan itu demi mengharap ridha-Mu, maka<br />
singkirkanlah batu yang menutupi gua ini”.<br />
Kemudian bergeserlah batu tsb dan mereka bisa keluar.”<br />
Dari hadits dan kisah diatas membuktikan bahwa Allah hanya menerima amal<br />
yang didasari oleh ikhlas semata karena-Nya.<br />
Dr. Ahmad Farid memberikan pengertian ikhlas yaitu ; membersihkan maksud<br />
dan motivasi bertaqarrub kepada Allah dari berbagai maksud dan niat lain.<br />
Atau mengesakan hanya Allah-lah sebagai tujuan dalam berbuat kebajikan,<br />
yaitu dengan menjauhi dan mengabaikan pandangan mahluk serta tujuan<br />
keduniaan dan senantiasa berkonsentrasi kepada Allah semata.<br />
Sedangkan Ibnu Alwy memberikan batasan pengertian seorang Mukhlis (orang<br />
ikhlas) yaitu apabila ia melakukan ataupun meninggalkan sesuatu perbuatan,<br />
baik dalam sunyi ataupun banyak orang tetap menyandarkan tujuannya hanya<br />
kepada Allah, tanpa mencampuradukkan dengan maksud lain, misalnya karena<br />
hawa nafsu atau keduniaan (harta, tahta, wanita). Dan jika dia berniat<br />
disamping Allah juga karena manusia, maka dia termasuk Riya yaitu orang<br />
yang berbuat riya dan amalnya tidak akan diterima. Apabila dia beramal<br />
karena manusia semata, maka dia telah terjerumus ke dalam kebinasaan dan<br />
riyanya telah mencapai tingkat Munafiq. Na’udzubillahi min dzalik.<br />
Maka sifat keikhlasan patut dipelihara dari sifat-sifat yang mengotorinya<br />
seperti riya., ujub (merasa bangga akan perbuatannya), takabbur bahkan<br />
syirik sekecil apapun.<br />
Rasulullah SAW mengingatkan ummatnya mengenai syirik ini. Sabdanya:<br />
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah<br />
syirik yang paling kecil.” Para shahabat bertanya; “Apakah yang disebut<br />
syirik yang paling kecil itu ?” Beliau menjawab; “Riya”, Allah berfirman<br />
pada Hari Kiamat ketika memberikan balasan terhadap manusia menurut<br />
perbuatannya: “Pergilah kamu sekalian kepada sesuatu yang dijadikan tempat<br />
memperlihatkan amal kamu di dunia, maka tunggulah apakah kamu menerima<br />
balasan dari mereka itu.”(HR Ahmad)<br />
Sebagai upaya membina terwujudnya keikhlasan yang mantap dalam hati setiap<br />
mukmin, sudah selayaknya kita memperhatikan beberapa hal yang dapat<br />
memelihara ikhlas dari penyakit-penyakit hati yang selalu mengintai kita,<br />
di antaranya:<br />
Pertama, dengan meyakini bahwa setiap amal yang kita perbuat, baik lahir<br />
maupun batin, sekecil apapun, selalu dilihat dan didengar Allah SWT dan<br />
kelak Dia memperlihatkan seluruh gerakan dan bisikan hati tanpa ada yang<br />
terlewatkan. Kemudian kita menerima balasan atas perbuatan-perbuatan tadi.<br />
Firman Allah dalam S Al-Zalzalah 7-8:<br />
” Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia<br />
akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan<br />
sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” .<br />
Dan yang sering tidak kita sadari adalah penyimpangan niat dari ikhlas<br />
lillahi Ta’ala menjadi riya. Dalam hadis Qudsi dikemukakan: “Kelak pada<br />
Hari Kiamat akan didatangkan beberapa buku catatan amal yang telah<br />
disegel. Lalu dihadapkan kepada Allah SWT tetapi kemudian Dia berfirman:<br />
“Buanglah semua buku-buku ini !” Malaikatpun berkata: “Demi kekuasaan-Mu,<br />
kami tidak melihat didalamnya selain kebaikannya saja.” Lalu Allah<br />
berfirman; “Sesungguhnya amalan yang memenuhinya dilakukan bukan karena<br />
Aku, dan Aku tidak menerima kecuali apa yang dilakukan karena mencari<br />
keridlaan-Ku.”<br />
Kedua, memahami makna dan hakikat ikhlas serta meluruskan niat dalam<br />
beribadah hanya kepada Allah dan mencari keridlaan-Nya semata, setelah<br />
yakin perbuatan kita sejalan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Maka<br />
ketika niat kita menyimpang dari keikhlasan, kembalikanlah kepada keimanan<br />
dan ketaqwaan serta segeralah mensucikan diri dengan bertaubat dan<br />
meluruskan kembali niat baik tadi. Firman Allah: “Kecuali orang-orang yang<br />
bertaubat dan memperbaiki amal mereka serta berpegang teguh kepada agama<br />
Allah dan tulus ikhlas mengerjakan agama mereka karena Allah, maka mereka<br />
itu adalah bersama orang yang beriman dan kelak Allah memberikan kepada<br />
orang yang beriman pahala yang besar.”<br />
Ketiga, Berusaha membersihkan hati dari sifat yang mengotorinya seperti<br />
riya, nifaq atau bentuk syirik lainnya sekecil apapun. Allah berfirman:<br />
“Barang siapa yang berharap menemui Rabb-nya, hendaklah ia mengerjakan<br />
perbuatan baik dan janganlah mempersekutukan dalam beribadah kepada<br />
Rabb-nya dengan sesuatu apapun.<br />
“Kehati-hatian” ini sebagai cerminan sikap ikhlas kita, meskipun tidak<br />
jarang kita khilaf dan menyimpang dari niat semula. Namun, dengan memahami<br />
seluk beluk penyakit hati ini, diharapkan kita dapat mengambil sikap yang<br />
benar.<br />
Fudhail Bin `Iyadh mengatakan: “Meninggalkan amal karena manusia adalah<br />
riya, sedang beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas adalah<br />
menyelamatkanmu dari kedua penyakit tersebut.”<br />
Keempat, Memohon petunjuk kepada Allah agar menetapkan hati kita dalam<br />
ikhlas. Karena hanya Dia-lah yang berkuasa menurunkan hidayah dan<br />
menyelamatkan kita dari godaan syetan yang selalu menghembuskan kejahatan<br />
yang dapat membinasakan manusia. Tidak sedikit manusia yang terjerumus<br />
pada riya dan syirik yang tersembunyi, sebagaimana diperi-ngatkan dalam<br />
Hadits Nabi SAW, sabdanya: “Barangsiapa yang shalat dengan riya,<br />
sesungguhnya ia telah melakukan syirik, dan barang siapa yang shaum dengan<br />
riya, sesungguhnya ia telah melakukan syirik, dan demikian juga,<br />
barangsiapa yang bersedekah dengan riya sesungguhnya ia telah melakukan<br />
syirik, karena Allah `azza wajalla berfirman (dalam Hadits Qudsi):<br />
“Aku adalah penentu yang terbaik bagi orang yang telah menyekutukan<br />
sesuatu de-ngan-Ku. Amal perbuatannya sedikit maupun banyak bagi yang<br />
disekutukannya sedang Aku sama sekali tidak perlu padanya.”<br />
Maka, sudah menjadi kewajiban kita sebagai pribadi muslim untuk terus<br />
memelihara keikhlasan dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT dan<br />
menjauhkan diri dari sifat-sifat yang mengotorinya. Hanya kepada-Nyalah<br />
kita berserah diri dan memohon petunjuk-Nya.<br />
Ya Muqollib Al-Qulub, Tsabbit Quluubanaa `ala diiniKa, Ashbahnaa `ala<br />
fitratil Islam Wa-kalimatil Ikhlash Wa `Ala dini Nabiyina Muhammad<br />
Sallallau’alaihi wasallam, wa’alaa millati abiinaa Ibrahiima haniifaa,<br />
wamaa kaanaa minal musyrikiin. ”<br />
(Ya Allah yang berkuasa membolak-balik-kan hati manusia, tetapkanlah hati<br />
kami dalam agama. Jadikanlah kami dalam fitrah Islam dan teguhkanlah kami<br />
dalam prinsip keikhlasan, berpegang teguh kepada agama Nabi kami, Muhammad<br />
SAW, juga millah Ibrahim dengan setulus hati. Dan Ibrahim itu bukan dari<br />
golongan orang musyrik ).<br />
sumber: http://pk-sejahtera.us/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=74:ikhlas-dalam-beramal&amp;catid=26:tadzkirah-ramadhan&amp;Itemid=56</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ciget95.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ciget95.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ciget95.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ciget95.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ciget95.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ciget95.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ciget95.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ciget95.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ciget95.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ciget95.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ciget95.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ciget95.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ciget95.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ciget95.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=92&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/ikhlas-dalam-beramal-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce2e6bd6913c9ee34316ce4a4504a53e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kara07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikhlas dalam Beramal</title>
		<link>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/ikhlas-dalam-beramal/</link>
		<comments>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/ikhlas-dalam-beramal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 13:58:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kara07</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciget95.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin (pemimpin kaum beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhubeliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ مانوي . فمن كانت هجرته الي الله ورسوله فهجرته الي الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلي ما هاجر إليه “Sesungguhnya setiap amalan harus disertai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=90&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin (pemimpin kaum beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab <em>radhiyallahu’anhu</em>beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ مانوي . فمن كانت هجرته الي الله ورسوله فهجرته الي الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلي ما هاجر إليه</p>
<p><em>“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.”</em> (HR. Bukhari [Kitab <em>Bad'i al-Wahyi</em>, hadits no. 1, Kitab <em>al-Aiman wa an-Nudzur</em>, hadits no. 6689] dan Muslim [Kitab <em>al-Imarah</em>, hadits no. 1907])<br />
<span id="more-90"></span><br />
<strong>Faedah Hadits</strong></p>
<p>Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa niat merupakan timbangan penentu kesahihan amal. Apabila niatnya baik, maka amal menjadi baik. Apabila niatnya jelek, amalnya pun menjadi jelek (<em>Syarh Arba’in li an-Nawawi</em>, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 26).</p>
<p>Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Bukhari mengawali kitab Sahihnya [<em>Sahih Bukhari</em>] dengan hadits ini dan dia menempatkannya laiknya sebuah khutbah [pembuka] untuk kitab itu. Dengan hal itu seolah-olah dia ingin menyatakan bahwa segala amal yang dilakukan tidak ikhlas karena ingin mencari wajah Allah maka amal itu akan sia-sia, tidak ada hasilnya baik di dunia maupun di akhirat.” (<em>Jami’ al-’Ulum</em>, hal. 13)</p>
<p>Ibnu as-Sam’ani <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Hadits tersebut memberikan faedah bahwa amal-amal non ibadat tidak akan bisa membuahkan pahala kecuali apabila pelakunya meniatkan hal itu dalam rangka mendekatkan diri [kepada Allah]. Seperti contohnya; makan -bisa mendatangkan pahala- apabila diniatkan untuk memperkuat tubuh dalam melaksanakan ketaatan.” (Sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam <em>Fath al-Bari</em> [1/17]. Lihat penjelasan serupa dalam <em>al-Wajiz fi Idhah Qawa’id al-Fiqh al-Kulliyah</em>, hal. 129, ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 39-40)</p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> menerangkan, hadits ini juga merupakan dalil yang menunjukkan tidak bolehnya melakukan suatu amalan sebelum mengetahui hukumnya. Sebab di dalamnya ditegaskan bahwa amalan tidak akan dinilai jika tidak disertai niat [yang benar]. Sementara niat [yang benar] untuk melakukan sesuatu tidak akan benar kecuali setelah mengetahui hukumnya (<em>Fath al-Bari</em> [1/22]).</p>
<p><strong>Macam-Macam Niat</strong></p>
<p>Istilah niat meliputi dua hal; menyengaja melakukan suatu amalan [<em>niyat al-'amal</em>] dan memaksudkan amal itu untuk tujuan tertentu [<em>niyat al-ma'mul lahu</em>].</p>
<p>Yang dimaksud <em>niyatu al-’amal</em> adalah hendaknya ketika melakukan suatu amal, seseorang menentukan niatnya terlebih dulu untuk membedakan antara satu jenis perbuatan dengan perbuatan yang lain. Misalnya mandi, harus dipertegas di dalam hatinya apakah niatnya untuk mandi biasa ataukah mandi besar. Dengan niat semacam ini akan terbedakan antara perbuatan ibadat dan non-ibadat/adat. Demikian juga, akan terbedakan antara jenis ibadah yang satu dengan jenis ibadah lainnya. Misalnya, ketika mengerjakan shalat [2 raka'at] harus dibedakan di dalam hati antara shalat wajib dengan yang sunnah. Inilah makna niat yang sering disebut dalam kitab-kitab fikih.</p>
<p>Sedangkan <em>niyat al-ma’mul</em> lahu maksudnya adalah hendaknya ketika beramal tidak memiliki tujuan lain kecuali dalam rangka mencari keridhaan Allah, mengharap pahala, dan terdorong oleh kekhawatiran akan hukuman-Nya. Dengan kata lain, amal itu harus ikhlas. Inilah maksud kata niat yang sering disebut dalam kitab aqidah atau penyucian jiwa yang ditulis oleh banyak ulama salaf dan disabdakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Di dalam al-Qur’an, niat semacam ini diungkapkan dengan kata-kata iradah (menghendaki) atau ibtigha’ (mencari). (Diringkas dari keterangan Syaikh as-Sa’di dalam <em>Bahjat al-Qulub al-Abrar</em>, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 36-37 dengan sedikit penambahan dari <em>Jami’ al-’Ulum</em> oleh Ibnu Rajab hal. 16-17)</p>
<p><strong>Pentingnya Ikhlas</strong></p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), <em>“Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian orang yang terbaik amalnya.”</em> (QS. al-Mulk: 2)</p>
<p>al-Fudhail bin ‘Iyadh <em>rahimahullah</em> menafsirkan makna ‘yang terbaik amalnya’ yaitu ‘yang paling ikhlas dan paling benar’. Apabila amal itu ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Begitu pula apabila benar tapi tidak ikhlas, maka juga tidak diterima. Ikhlas yaitu apabila dikerjakan karena Allah. Benar yaitu apabila di atas sunnah/tuntunan (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam <em>Hilyat al-Auliya’</em> [8/95] sebagaimana dinukil dalam <em>Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal</em>, hal. 50. Lihat pula <em>Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 19)</p>
<p>Pada suatu saat sampai berita kepada Abu Bakar tentang pujian orang-orang terhadap dirinya. Maka beliau pun berdoa kepada Allah, “Ya Allah. Engkau lah yang lebih mengetahui diriku daripada aku sendiri. Dan aku lebih mengetahui diriku daripada mereka. Oleh sebab itu ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka kira. Dan janganlah Kau siksa aku karena akibat ucapan mereka. Dan ampunilah aku dengan kasih sayang-Mu atas segala sesuatu yang tidak mereka ketahui.” (Kitab <em>Az Zuhd Nu’aim bin Hamad</em>, dinukil dari <em>Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi</em>, hal. 119)</p>
<p>Mutharrif bin Abdullah <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Baiknya hati dengan baiknya amalan, sedangkan baiknya amalan dengan baiknya niat.” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam <em>Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 19). Ibnu al-Mubarak <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak pula amal besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam <em>Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 19)</p>
<p>Seorang ulama yang mulia dan sangat wara’ (berhati-hati) Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada niatku.” (<em>Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim</em>, dinukil dari <em>Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi</em>, hal. 19)</p>
<p>Pada suatu ketika sampai berita kepada Imam Ahmad bahwa orang-orang mendoakan kebaikan untuknya, maka beliau berkata, “Semoga saja, ini bukanlah bentuk istidraj (yang membuatku lupa diri).” (<em>Siyar A’lamin Nubala’</em>, dinukil dari <em>Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi</em>, hal. 22)</p>
<p>Begitu pula ketika salah seorang muridnya mengabarkan pujian orang-orang kepada beliau, maka Imam Ahmad mengatakan kepada si murid, “Wahai Abu Bakar. Apabila seseorang telah mengenali hakikat dirinya sendiri maka ucapan orang tidak akan berguna baginya.” (<em>Siyar A’lamin Nubala’</em>, dinukil dari <em>Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi</em>, hal. 22)</p>
<p>Ad Daruquthni <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Pada awalnya kami menuntut ilmu bukan semata-mata karena Allah, akan tetapi ternyata ilmu enggan sehingga menyeret kami untuk <a title="Ikhlas beramal" href="http://muslim.or.id/hadits/ikhlas-dalam-beramal.html">ikhlas</a> dalam belajar karena Allah.” (<em>Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim</em>, dinukil dari <em>Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi</em>, hal. 20)</p>
<p>Asy Syathibi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Penyakit hati yang paling terakhir menghinggapi hati orang-orang salih adalah suka mendapat kekuasaan dan gemar menonjolkan diri.” (<em>Al I’tisham</em>, dinukil dari <em>Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi</em>, hal. 20)</p>
<p>Di dalam biografi Ayyub As Sikhtiyani disebutkan oleh Syu’bah bahwa Ayyub mengatakan, “Aku sering disebut orang, namun aku tidak senang disebut-sebut.” (<em>Siyar A’lamin Nubala’</em>, dinukil dari <em>Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi</em>, hal. 22)</p>
<p>Seorang ulama mengatakan, “Orang yang benar-benar berakal adalah yang mengenali hakikat dirinya sendiri serta tidak terpedaya oleh pujian orang-orang yang tidak mengerti hakikat dirinya” (<em>Dzail Thabaqat Hanabilah</em>, dinukil dari<em>Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi</em>, hal. 118)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Tahun ibarat sebatang pohon sedangkan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, jam-jam adalah daun-daunnya dan hembusan nafas adalah buah-buahannya. Barang siapa yang pohonnya tumbuh di atas kemaksiatan maka buah yang dihasilkannya adalah hanzhal (buah yang pahit dan tidak enak dipandang, pent) sedangkan masa untuk memanen itu semua adalah ketika datangnya <em>Yaumul Ma’aad</em> (kari kiamat). Ketika dipanen barulah akan tampak dengan jelas buah yang manis dengan buah yang pahit. Ikhlas dan tauhid adalah ‘sebatang pohon’ di dalam hati yang cabang-cabangnya adalah amal-amal sedangkan buah-buahannya adalah baiknya kehidupan dunia dan surga yang penuh dengan kenikmatan di akherat. Sebagaimana buah-buahan di surga tidak akan akan habis dan tidak terlarang untuk dipetik maka buah dari tauhid dan keikhlasan di dunia pun seperti itu. Adapun syirik, kedustaan, dan riya’ adalah pohon yang tertanam di dalam hati yang buahnya di dunia adalah berupa rasa takut, kesedihan, gundah gulana, rasa sempit di dalam dada, dan gelapnya hati, dan buahnya di akherat nanti adalah berupa buah Zaqqum dan siksaan yang terus menerus. Allah telah menceritakan kedua macam pohon ini di dalam surat Ibrahim.” (<em>Al Fawa’id</em>, hal. 158).</p>
<p>Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili <em>hafizhahullah</em> mengatakan, “Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun kedua untuk semua amal salih yang diterima di sisi Allah.” (<em>Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal</em>, hal. 49)</p>
<p>***</p>
<p>Sumber:<a href="http://muslim.or.id/hadits/ikhlas-dalam-beramal.html">http://muslim.or.id/hadits/ikhlas-dalam-beramal.html</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ciget95.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ciget95.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ciget95.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ciget95.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ciget95.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ciget95.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ciget95.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ciget95.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ciget95.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ciget95.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ciget95.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ciget95.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ciget95.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ciget95.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=90&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/ikhlas-dalam-beramal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce2e6bd6913c9ee34316ce4a4504a53e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kara07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKHLAQUL KARIMAH SEORANG MUSLIM</title>
		<link>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/akhlaqul-karimah-seorang-muslim/</link>
		<comments>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/akhlaqul-karimah-seorang-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 13:54:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kara07</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciget95.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[DEFINISI AKHLAQ ISLAMI Akhlaq adalah ciri khas seorang muslim yang membedakan dirinya dengan yang lain. Akhlaq Islam yang tinggi dan mulia akan menjadikan generasi yang terbaik dalam peradaban manusia. Sehingga setiap muslim hendaknya menyadari ada perbedaan antara akhlaq dirinya dengan orang lain yang bukan muslim karena salah satu tugas Rasul di muka bumi adalah untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=88&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h3><strong>DEFINISI AKHLAQ ISLAMI</strong></h3>
<p>Akhlaq adalah ciri khas seorang muslim yang membedakan dirinya dengan yang lain. Akhlaq Islam yang tinggi dan mulia akan menjadikan generasi yang terbaik dalam peradaban manusia. Sehingga setiap muslim hendaknya menyadari ada perbedaan antara akhlaq dirinya dengan orang lain yang bukan muslim karena salah satu tugas Rasul di muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia (QS.2:111, 68:4, 33:21).</p>
<p><span id="more-88"></span><br />
Akhlaq pula yang mengidentifikasikan manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan binatang (QS.7:179) sehingga manusia yang dalam dirinya tidak terdapat akhlaq yang selayaknya dimiliki oleh manusia, maka ia bisa lebih kejam dari binatang.<br />
Akhlaq yang baik adalah cerminan baiknya aqidah dan syariah yang diyakini seseorang. Buruknya akhlaq merupakan indikasi buruknya pemahaman seseorang terhadap aqidah dan syariah . Akhlaq juga merupakan buah dari ibadah (QS.29:45, 2:197).</p>
<p>“Paling sempurna orang mukmin imannya adalah yang paling luhur aqidahnya.” (H.R.Tirmidzi)</p>
<p>“Sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji itu sedikitpun bukan dari Islam dan sesungguhnya sebaik-baik keislaman manusia adalah yang paling baik akhlaqnya.” (H.R.Thabrani, Ahmad dan Abu Ya’la)</p>
<p>“Tidak ada yang lebih bea timbangan seorang hamba pada hari kiamat melebihi keluhuran akhlaqnya.” (H.R.Tirmidzi)</p>
<p>“Seburuk-buruk umatku adalah orang yang banyak omong, bermulut besar dan berlagak pandai. Dan sebaik-baik umatku adalah mereka yang paling baik akhlaqnya.” (H.R. Bukhari)</p>
<p>C<strong>iri Pribadi Muslim Bertaqwa sebagai Realisasi Akhlaq yang sempurna</strong><br />
1. Mencintai Alloh diatas segala kecintaan dan menjadikan cinta ini sebagai dasar untuk mencintai yang lain seperti Rasulullah, orang tua, dsb (QS.9:24)<br />
2. Takut akan kemurkaan Alloh<br />
3. Senantiasa mengharap Ridho Alloh SWT<br />
4. Senantiasa merasa disertai Alloh dimanapun kita berada<br />
5. Senantiasa mendekatkan diri kepada Alloh dalam berbagai keadaan</p>
<p><strong>Contoh Akhlaq Seorang Muslim</strong><br />
1. Selalu memperkuat hubungan dengan Alloh<br />
2. Menjaga diri dari hal yang sybhat (samar-samar/meragukan)<br />
3. Menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan (QS. 24:30)<br />
4. Istiqomah dalam kebenaran (QS.11:113)<br />
5. Lemah lembut dan suka memaafkan (QS. 20:44)<br />
6. Penuh cinta dan kasih sayang (QS. 9:128)<br />
7. Benar, jujur dan tegas (QS. 33:70)<br />
8. Tawadlu/rendah hati (QS. 26:215)<br />
9. Jiwa yang siap berkorban (QS. 49:15)<br />
10. Menyimpan rahasia<br />
11. Menutupi aib orang lains<br />
12. Menghormati yang tua dan menyayangi yang muda<br />
13. Memenuhi janji<br />
14. Tidak berteman dengan orang-orang yang buruk / ikut-ikutan<br />
15. Tidak ghibah</p>
<p><strong>Tata Krama yang berlaku umum untuk lelaki dan perempuan</strong><br />
1. Komunikasi antara keduanya harus dalam batas ucapan yang baik, tidak mengandung kemunkaran, tidak mengandung hal yang tidak bermanfaat,dsb (QS.33:12)<br />
2. Menundukkan pandangan (QS.24:30-31) kecuali dalam hal pendidikan, kesehatan/kedokteran, jual beli, dan meminang.<br />
3. Menghindari percampuran antat lawan jenis (ikhtilat)<br />
4. Tidak berkhalwat / berduaan antara lawan jenis<br />
5. Menghindari posisi syubhat yang memungkinkan munculnya pandangan negatif dari orang lain.</p>
<p><strong>Tata Krama Khusus Wanita </strong>1. Komitmen dengan pakaian syar’i / menutup aurat (QS. 24:31, 33:59)<br />
2. Serius dalam berbicara / tidak mendayu-dayu (QS.33:32)<br />
3. Wajar dalam melakukan gerak-gerik</p>
<p>Catatan untuk Tentor :<br />
Permasalahan mengenai interaksi antara lawan jenis kadangkala menjadi hal yang dilematis terkait dengan relitas di lapangan. Maka dari itu, setiap tentor harus bijak dalam menjelaskan permaslahan ini, jangan sampai peserta mentoring merasa tertekan dan sebagainya. Bangun motivasi mereka untuk melakukan hal ini. Jelaskasn bahwa ketika kita mengaku sebagai seorang muslim dan mnyetakan diri kita sebagai orang yang beriman, maka mau tidak mau, konsekuensinya, kita harus melakukan aturan islam secara kaffah/sempurna. Tidak mengambil yang enaknya saja, dan meninggalkan yang lain.<br />
Jelaskan pula bahwa permasalahan-permasalahan yang ada sebenarnya ujian dari Alloh untuk menguji keistiqomahan keimanan kita kepada Alloh. Dan selama kita bisa menjaga prinsip yang kita miliki yang sesuai dengan Islam, Insya Alloh, Allo0h akan memberi balasan yang besar kepada kita.</p>
<p><strong>Cara Mencapai Akhlaq Mulia</strong><br />
1. Menjadikan iman sebagai pondasi dan sumber<br />
Iman artinya percaya yaitu percaya bahwa Alloh selalu melihat segala perbuatan manusia. Bila melakukan perbuatan baik, balasannya akan menyenangkan. Bila perbuatan jahat maka balasan pedih siap menanti. Hal ini akan melibatkan iman kepada hari akhir. Akhlaq yang baik akan dibalas dengan surga dan kenikmatan (QS.55:12-37). Begitu pula dengan akhlaq yang buruk akan disiksa di neraka (QS. 22:19-22).</p>
<p><strong>2. Pendekatan secara langsung</strong><br />
Artinya melalui Al-Qur’an. Sebagai seorang muslim harus menerima Al-Qur’an secara mutlak dan menyeluruh. Jadi, apa pun yang tertera di dalamnya wajib diikuti. Misalnya, Al-Qur’an melarang untuk saling berburuk sangka (QS.49:12), menyuruh memenuhi janji (QS.23:18),dsb</p>
<p><strong>3. Pendekatan tidak secara langsung</strong><br />
Yaitu dengan upaya mempelajari pengalaman masa lalu, yakni agar kejadian-kejadian malapetaka yang telah terjadi tak akan terulangi lagi di masa kini dan yang akan datang.</p>
<p>Dari hal di atas, intinya adalah latihan dan kesungguhan. Latihan artinya berusaha mengulang-ulang perbuatan yang akan dijadikan kebiasaan. Kemudian bersungguh-sungguh berkaitan dengan motivasi. Motivasi yang terbaik dan paling potensial adalah karena ingin memenuhi perintah Alloh dan siksa-Nya.</p>
<p>REFERENSI :<br />
Novi Hardian &amp; Tim ILNA Learning Center. Super Mentoring<br />
Kaderisasi UKKI UNSOED 2002. Silabus Materi PPAI UNSOED 2002<br />
Abbas, Ziyad (ed.) , Pilihan Hadits Politik, Ekonomi dan Sosial, Pustaka Panjimas<br />
Ali Hasyimi, Muhammad, Dr., Apakah Anda Berkepribadian Muslim? Hal 24-28, GIP<br />
Yakan, Muna Hadad., Hati-hati terhadap Media yang Merusak Anak, hal 38-40, GIP<br />
Isnet „Urgensi Akhlak 1“</p>
<p>sumber:<a href="http://harokah.blogspot.com/2005/12/akhlaqul-karimah-seorang-muslim.html">http://harokah.blogspot.com/2005/12/akhlaqul-karimah-seorang-muslim.html</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ciget95.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ciget95.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ciget95.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ciget95.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ciget95.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ciget95.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ciget95.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ciget95.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ciget95.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ciget95.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ciget95.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ciget95.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ciget95.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ciget95.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=88&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/akhlaqul-karimah-seorang-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce2e6bd6913c9ee34316ce4a4504a53e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kara07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IMAN DAN NILAINYA DALAM KEHIDUPAN</title>
		<link>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/iman-dan-nilainya-dalam-kehidupan/</link>
		<comments>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/iman-dan-nilainya-dalam-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 13:51:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kara07</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciget95.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[1. MUKADDIMAH Tak diragukan lagi bahwa siapapun ingin hidup bahagia. Masing-masing dalam hidup ini mendambakan ketenangan kedamaian kerukunan dan kesejahteraan. Namun di manakah sebenarnya dapat kita peroleh hal itu semua? Sesungguhnya menurut ajaran Islam hanya iman yg disertai dgn amal shaleh yg dapat menghantarkan kita baik sebagai individu maupun masyarakat ke arah itu. “Barangsiapa yg [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=85&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>1. MUKADDIMAH</p>
<p>Tak diragukan lagi bahwa siapapun ingin hidup bahagia. Masing-masing dalam hidup ini mendambakan ketenangan kedamaian kerukunan dan kesejahteraan. Namun di manakah sebenarnya dapat kita peroleh hal itu semua?</p>
<p>Sesungguhnya menurut ajaran Islam hanya iman yg disertai dgn amal shaleh yg dapat menghantarkan kita baik sebagai individu maupun masyarakat ke arah itu.<span id="more-85"></span></p>
<p>“Barangsiapa yg mengerjakan amal shaleh baik laki-laki-laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yg baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dgn pahala yg lbh baik dari apa yg telah mereka kerjakan.” .</p>
<p>Dengan iman umat Islam generasi pendahulu mencapai kejayaan berhasil merubah keadaan duni dari kegelapan menjadi terang benderang. Dengan iman masyarakat mereka menjadi masyarakat adil dan makmur. Para umara’ melaksanakan perintah Allah para ulama beramar ma’ruf dan nahi mungkar dan rakyat saling tolong-menolong atas kebajikan dan kebaikan. Kalimatul Haq mereka junjung tinggi tiada yg mengikat antar mereka selain tali persaudaraan iman.</p>
<p>Namun setelah redup cahaya iman di hati kita lenyaplah nilai-nilai kebaikan diantara kita. Masyarakat kita pun menjadi masyarakat yg penuh dgn kebohongan kesombongan kekerasan individualisme keserakahan kerusakan moral dan kemungkaran.</p>
<p>“Yang demikian itu adl krn sesungguhnya Allah sekali-kali tidak merubah sesuatu ni’mat yg telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum sehingga kaum itu merubah apa yg ada pada diri mereka sendiri?..” .</p>
<p>Maka apabila kita ingin mencapai apa yg telah dicapai para salaf apabila kita ingin mewujudkan apa yg telah dijanjikan oleh Allah SWT kepada para hambaNya yg beriman maka hendaklah kita memperbaharui iman dan melaksanakan apa yg menjadi konsekwensinya.</p>
<p>Dengan memohon ma’unah Allah makalah singkat ini mencoba menjelaskan beberapa hal yg berkaitan dgn topik tersebut di atas.</p>
<p>2. PENGERTIAN IMAN</p>
<p>Iman secara etimologis berasal dari kata aamana – yu’minu berarti tasdiq yaitu membenarkan mempercayai. Dan menurut istilah Iman ialah “Membenarkan dgn hati diucapkan dgn lisan dan dibuktikan dgn amal perbuatan.”</p>
<p>Imam Ahmad bin Hanbal mendefinisikannya dgn “Qaulun wa amalun wa niyyatun wa tamassukun bis Sunnah.” Yakni Ucapan diiringi dgn ketulusan niat dan dilandasi dgn berpegang teguh kepada Sunnah .</p>
<p>Sahl bin Abdullah At-Tustari ketika ditanya tentang apakah sebenarnya iman itu beliau menjawab demikian “Qaulun wa amalun wa niyyatun wa sunnatun.” Artinya Ucapan yg disertai dgn perbuatan diiringi dgn ketulusan niat dan dilandasi dgn Sunnah. Kata beliau selanjutnya “Sebab iman itu apabila hanya ucapan tanpa disertai perbuatan adl kufur apabila hanya ucapan dan perbuatan tanpa diiringi ketulusan niat adl nifaq sedang apabila hanya ucapan perbuatan dan ketulusan niat tanpa dilandasi dgn sunnah adl bid’ah.</p>
<p>Dengan demikian iman itu bukan sekedar pengertian dan keyakinan dalam hati; bukan sekedar ikrar dgn lisan dan bukan sekedar amal perbuatan saja tapi hati dan jiwa kosong. Imam Hasan Basri mengatakan “Iman itu bukanlah sekedar angan-angan dan bukan pula sekedar basa-basi dgn ucapan akan tetapi sesuatu keyakinan yg terpatri dalam hati dan dibuktikan dgn amal perbuatan. bagian 1 hal. 18}.</p>
<p>3. POSISI DAN KEDUDUKAN IMAN DALAM DIENUL ISLAM</p>
<p>Iman dalam Dienul Islam menempati posisi amat penting dan strategis sekali. Karena iman adl asas dan dasar bagi seluruh amal perbuatan manusia. Tanpa iman tidaklah sah dan diterima amal perbuatannya. Firman Allah SWT dalam Qur’an Surah An-Nisa’ 124 yg artinya “Barangsiapa yg mengerjakan amal-amal shaleh baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yg beriman maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”</p>
<p>Juga dalam Qur’an Surah Al-Isra’ 19 yg artinya “Dan barangsiapa yg menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dgn sungguh-sungguh sedang ia adl mu’min maka mereka itu adl orang-orang yg usahanya dibalasi dgn baik.”</p>
<p>Disebutkan dalam hadits dari Al-Bara’ ibn ‘Azib Radhiyallahu ‘Anhu bahwa ada seorang kafir datang dgn bertopeng sambil membawa sepotong besi kemudian memohon kepada Rasulullah SAW agar diperkenankan pergi bersama kaum Muslimin utk ikut berperang. Maka beliau bersabda kepadanya “Masuklah Islam kemudian pergilah berperang!” Lalu iapun masuk Islam dan ikut pergi berperang sehingga terbunuh. Nabi SAW bersabda “Dia beramal sedikit tetapi dibalas dgn pahala yg banyak.” .</p>
<p>Disebutkannya iman dalam Al-Qur’an lbh dari 840 kali1 tiada lain menunjukkan posisi dan kedudukannya dalam Islam menurut Allah SWT.</p>
<p>4. KORELASI ANTARA IMAN DAN ISLAM</p>
<p>Iman dan Islam adl dua sejoli yg tidak boleh dipisahkan. Kedua-duanya ibarat dua sisi uang logam. Tidak ada Iman tanpa Islam dan tidak ada Islam tanpa Iman. Tetapi dgn demikian bukan berarti Islam itu adl Iman dan Iman adl Islam.</p>
<p>Iman apabila disebutkan bersama-sama dgn Islam maka menunjukkan kepada hal-hal batiniah; seperti Iman kepada Allah SWT iman kepada Malaikat iman kepada hari akhir dan seterusnya. Dan Islam apabila disebutkan bersama-sama dgn Iman maka menunjukkan kepada hal-hal lahiriah; seperti Syahadat shalat puasa dan seterusnya. Dasarnya Al-Hujurat 14; Hadits Jibril riwayat Al-Bukhari dan Muslim.</p>
<p>Namun Iman apabila disebutkan tersendiri tanpa dgn Islam maka mencakup pengertian Islam dan tidak terlepas darinya; krn iman menurut definisinya adalah Keyakinan ucapan dan perbuatan. Demikian pula Islam apabila disebutkan tersendiri tanpa dgn Iman maka mencakup pengertian Iman dan tidak boleh dipisahkan darinya. Karena Islam pada hakekatnya yaitu Berserah diri lahir dan batin kepada Allah SWT dgn mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dasarnya Al-Anfal 2 – 3 Al-Mu’minun 1 – 9 dan Al-Imran 19 85.</p>
<p>5. KONSEKWENSI DAN CIRI-CIRI IMAN</p>
<p>Segala pengakuan ada konsekwensinya dan mempunyai ciri-ciri yg menunjukkan kebenarannya. Demikian pula iman. Adapun konsekwensi dan ciri-cirinya antara lain</p>
<p>Mempercayai segala yg datang dari Allah SWT dgn yakin tanpa ragu-ragu lagi. .<br />
Mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya melebihi dari yg lain. .<br />
Patuh dan tunduk kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. .<br />
Senantiasa berhukum kepada syariat-Nya. .<br />
Amar Ma’ruf – Nahi Munkar. .<br />
Berda’wah dan Jihad di jalan Allah SWT. .<br />
Walaa’ kepada kaum Mu’minin dan Baraa’ terhadap orang-orang kafir. .<br />
Ridha kepada segala takdir-Nya. .<br />
Bersambung…</p>
<p>Oleh Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia</p>
<p>sumber file al_islam.chm</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ciget95.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ciget95.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ciget95.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ciget95.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ciget95.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ciget95.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ciget95.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ciget95.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ciget95.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ciget95.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ciget95.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ciget95.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ciget95.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ciget95.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=85&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/iman-dan-nilainya-dalam-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce2e6bd6913c9ee34316ce4a4504a53e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kara07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Renungan Sholat</title>
		<link>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/renungan-sholat/</link>
		<comments>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/renungan-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 13:43:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kara07</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciget95.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[يُرِيْدُ اللهُ اَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ اْلاِنْسَانُ ضَعِيْفًا “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”. (QS. 4 : 28) وَالسّبِقُوْنَ اْلأَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهجِرِيْنَ وِاْلاَنْصَارِ وَالًَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّلَهُمْ جَنتٍ تَجْرِىْ تَحْتَهَا اْلاَنْهَارُ خلِدِيْنَ فِيْهَا اَبَدًا ذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=78&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>يُرِيْدُ اللهُ اَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ اْلاِنْسَانُ ضَعِيْفًا</p>
<p>“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”. (QS. 4 : 28)</p>
<p>وَالسّبِقُوْنَ اْلأَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهجِرِيْنَ وِاْلاَنْصَارِ وَالًَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّلَهُمْ جَنتٍ تَجْرِىْ تَحْتَهَا اْلاَنْهَارُ خلِدِيْنَ فِيْهَا اَبَدًا ذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ</p>
<p>“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di kalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. 9: 100)<span id="more-78"></span></p>
<p>Angin bergerak, terbangkan kabut hitam<br />
Tutupi cahaya mentari, tampaklah bumi ini kelam<br />
Perlahan, mencair gumpalan kabut hitam<br />
Curahkan air hujan, bersihkan debu yang bertebaran</p>
<p>Hitam kelam, hati seorang insan<br />
Sebab, hanya membuahkan banyak kemungkaran<br />
Hidayah turun, sebagai bukti kemurahan<br />
Sadarkan diri, ternyata hanya tumpukan kotoran</p>
<p>BiIla sejenak kita coba renungkan kembali tentang peranan dan tujuan sholat bagi kehidupan manusia pada umumnya, nampak terasa masih belum sesuai dengan muatan isi dari Firman Allah dalam S. Al baqarah (2) : 153 di atas. Karena pada ayat tersebut dikatakan bahwa : “mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. Jadi sebenarnya, shalat itu merupakan kebutuhan manusia itu sendiri untuk mendapatkan pertolongan dari Allah, karena memang manusia dicipta sebagai mahluk yang lemah. Pantaslah bila manusia sangat memerlukan pertolongan, sebagaimana termuat dalam S4: 28 diatas. Tetapi banyak manusia yang sombong dan bangga dengan kemampuan dirinya, sehingga tercetus pada rangkaian kata “percaya diri itu adalah modal suatu kesuksesan”. Akhirnya Allah selaku pencipta senantiasa dikesampingkan.</p>
<p>Sebenarnya manusia yang selalu optimis akan kemampuan diri, adalah orang yang buta terhadap dirinya sendiri dan tehadap nilai hakekat shalat, sekalipun sepintas tampak di mata kepala, raganya melaksanakan shalat. Tapi shalat yang dilakukan hanyalah laksana buih di tepi pantai, lenyap seketika tak meninggalkan bekas yang berguna. Kalau kita mau teliti kembali, apa yang telah kita dapati selama melakukan shalat! Sebab, sholat dilaksanakan atas dasar kewajiban. Bukan atas dasar kesadaran dan kecintaan. Sedangkan Rosulullah S.A.W. dengan tegas mengatakan : “Sholat adalah suatu kesukaan / hubbi atau kecintaan yang tumbuh dalam dirinya”.</p>
<p>Jika sholat dilakukan atas dasar dorongan kewajiban, terselip rasa yang amat halus terhadap hak sebagai imbalan dari pelaksanaan kewajiban. Bila demikian halnya, berarti sholat dilakukan guna kebutuhan Rabb atau dengan kata lain sholat dijalankan untuk kepentingan Allah selaku Rabb. Padahal sholat atau tidak sholat seseorang tidak akan mengurangi dan menambah keberadaan Allah selaku Pencipta lagi maha kaya. Sebenarnya hakekat sholat dijalankan bagi seorang hamba, merupakan kebutuhan pokok dan utama bagi dirinya sendiri. Ibarat bahan bakar merupakan kebutuhan pokok bagi industri atau air sebagai kebutuhan suatu tanaman.</p>
<p>Sholat yang dilaksanakan atas dasar kewajiban akan muncul dalam fikiran, bahwa ada hak manusia yang belum diberikan oleh Allah. Hak itu akan turun menurut pandangannya, setelah sholat sebagai kewajiban dilaksanakan. Jika demikian halnya, “bukankah berarti Allah membujuk manusia untuk menjalankan ketaatan?” bukanlah, Allah! Selaku Rabb, jika memiliki sifat demikian. Padahal, tanpa menusia menjalankan sholat, kemurahan Allah terus melimpah ruah. Hanya manusia itu sendiri yang senantiasa mengabaikan kemurahan Allah.</p>
<p>Kemurahan melimpah ruah Allah berikan, tanpa ada suatu bujukan agar dilaksanakannya sholat. Kemurahan Allah telah diisaratkan sebagaimana termuat dalam S. Al Maaidah (5) : 3, yakni : “pada hari ini telah aku cukupkan kepadamu ni’matku”. Ini berarti, sempurnalah ni’mat Allah yang dilimpahkan kepada manusia. Tidak ada lagi, hak manusia dengan sholat sebagai kewajiban yang tertahan. Sehingga harus ditebus dengan sholat sebagai kewajiban.</p>
<p>Kemurahan Allah diibaratkan hujan yang dicurahkan dari langit, mengalir terus dengan derasnya. Adakah wadah yang siap menampung turunnya air hujan? Lalu didayagunakan sebatas kemampuan yang telah dipasangkan. Jika air hujan ini tidak tertampung dalam suatu wadah, pastilah air hujan itu terbuang sia-sia. Bahkan dapat berakibat fatal. Bencana muncul dan pasti merugikan, baik kerugian jiwa maupun kerugian harta. Itulah banjir melanda.</p>
<p>Begitu pula terhadap nikmat Allah yang telah Allah cukupkan pada manusia! Apabila tidak ditampung oleh suatu wadah /”hati”, bencana dapat saja berupa kegelisahan hidup, banyak persoalan hidup tak terselesaikan, kecemasan, kekhawatiran, akhirnya berakibat pada timbulnya penyakit strees atau lainnya.</p>
<p>Sebenarnya hak dan kewajiban merupakan suatu rangkaian yang hanya berlaku pada makhluk ciptaan, khususnya manusia. Sebab jika hak dan kewajiban disandangkan pada Allah, berarti hilanglah sudah keindahan nama Allah, yaitu yang bernamakan “Ar-Rakhman”. Allah memberi bukan karena seorang hamba telah terlebih dahulu melakukan upaya kewajiban. Justru sebelum manusia melakukan ketaatan, bahkan sebelum manusia dilahirkan, nikmat dan rakhmat terlebih dahulu telah terbentang luas tiada hingga, hanya nikmat dan rakhmat tersebut diabaikan begitu saja. Karena telah merasa puas dengan sajian dunia yang palsu.</p>
<p>Jelaslah, terjadinya kemerosotan umat Islam hingga titik dasar, adalah akibat salah pengertian dalam melaksanakan sholat. Sholat dipandang sebagai suatu kewajiban. Incaran tertuju kearah hak berupa pahala yang akan diberikan sebagai imbalan atas terlaksananya suatu kewajiban. Laksana seorang pemimipin membayar upah sebagai hak karyawan, yang telah menjalankan kewajiban. Padahal hakekat abdi sejati, apapun ia lakukan terhadap Allah Robb pencipta dirinya, dasarnya adalah keridhoan-Nya (Q.S At Taubah: (9) : 100). Ridholah yang menjadi titik incaran. Hal yang amat menentukan jatuhnya umat islam, (Khususnya umat Islam di penghujung akhir zaman) pada titik dasar kemerosotan, ialah mengabaikan atau tidak mendayagunakan nikmat Allah yang telah cukupkan.</p>
<p>Dua hal pokok inilah, telah diabaikan umat Islam selama sekian abad belakangan ini. Sekiranya umat Islam konsekwen mau menelusuri napak tilas Rosulullah Muhammad S.A.W., pastilah kemerosotan tidak akan dialami. Bahkan kejayaan dan keunggulan/tegak sebagai perisai dalam kehidupan umat Islam. Rosulullah Muhammad S.A.W. dengan tegas menyatakan : “Sholat dilakukan atas dasar kesukaan, hubbi atau kecintaan”. Berarti palaksanaannya tidak ada terselip imbalan hak yang akan diterima. Dengan sendirinya apa yang diisyaratkan dalam firman Allah yang berkaitan dengan “telah Aku cukupkan nikmat-Ku padamu”, dapatlah dirasakan kenyamanan. Sehingga sholat dirasakan sebagai suatu kesukaan, hubbi atau kecintaan.</p>
<p>Nikmat yang terbesar dalam melaksanakan sholat ialah terbawanya diri dekat dengan Allah, sehingga segala permasalahan dapat terselesaikan atas pertolongan-Nya.</p>
<p>Wahai Allah! Wahai Rabbi! Yang berhiaskan Ar-Rahman<br />
Tak henti-hentinya muncul dalam diri suatu penyesalan<br />
Tersisalah setetes harapan sebagai modal kekuatan<br />
Pangabdian murni, itulah hakekat seorang insan</p>
<p>Wahai Allah! Wahai Rabbi! Yang berhiaskan kesabaran<br />
Sabar menanti kembalinya hamba dari keingkaran<br />
Ampunilah hamba, yang setiap saat berbuat kesalahan<br />
Pada-Mu lah diri, tegak kokoh bersandarkan</p>
<p>Wahai Allah! Wahai Rabbi! Sumber keselamatan<br />
Jaga dan tolonglah diri, dalam setiap keraguan<br />
Sadarlah diri, pada-Mu lah sebenarnya sebuah pengabdian<br />
Lemah tak berdaya jalankan ketaatan<br />
Tanpa pertolongan-Mu yang senantiasa engakau ulurkan.<br />
sumber:http://hikmahrenunganmalam.wordpress.com/2007/10/28/renungan-sholat/</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ciget95.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ciget95.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ciget95.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ciget95.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ciget95.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ciget95.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ciget95.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ciget95.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ciget95.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ciget95.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ciget95.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ciget95.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ciget95.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ciget95.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=78&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/renungan-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce2e6bd6913c9ee34316ce4a4504a53e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kara07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DENGAN KETULUSAN BERJIHAD FII SABIILILLAH DEKATKAN JALINAN HUBUNG HAMBA DENGAN ROBB</title>
		<link>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/dengan-ketulusan-berjihad-fii-sabiilillah-dekatkan-jalinan-hubung-hamba-dengan-robb/</link>
		<comments>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/dengan-ketulusan-berjihad-fii-sabiilillah-dekatkan-jalinan-hubung-hamba-dengan-robb/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 13:41:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kara07</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciget95.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُوْنُوْا أَنْصآرَ اللهَ كَمَا قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّيْنَ مَنْ أَنْصَارِى إِلَى اللهِ قَالَ الْحَوَارِيُّوْنَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللهِ فَئاَمَنَتْ طَآئِفَةٌ مِنْ بَنِى إِسْرآئِيْلَ وَكَفَرَتْ طَآئِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا عَلىَ عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوْا ظهِرِيْنَ ﴿ الصف : 14 ﴾ Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (dien) Allah sebagaimana Isa putera Maryam telah berkata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=76&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p dir="rtl"><strong><br />
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُوْنُوْا أَنْصآرَ اللهَ كَمَا قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّيْنَ مَنْ أَنْصَارِى إِلَى اللهِ قَالَ الْحَوَارِيُّوْنَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللهِ فَئاَمَنَتْ طَآئِفَةٌ مِنْ بَنِى إِسْرآئِيْلَ وَكَفَرَتْ طَآئِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا عَلىَ عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوْا ظهِرِيْنَ ﴿ الصف : 14 ﴾</strong></p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (dien) Allah sebagaimana Isa putera Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan dien) Allah?”. Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong dien Allah!”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Q.S. 61:14)<span id="more-76"></span></em></p>
<p>Untuk sesaat, marilah diri kita melihat lanjut merenung (dengan kesucian bathiniah) suatu adegan kehidupan keseharian dalam lingkup penuh bahagia, antara bunda yang menaruh cinta tiada tara dengan seorang buah hati, yang sedang dalam masa pertumbuhan menerjuni kehidupan dunia, yang penuh onak dan duri lagi berpagar ranjau-ranjau tersembunyi. Sebagai seorang bunda yang menaruh perhatian penuh terhadap buah hatinya melihat dengan mata hati, betapa rawan langkah-langkah perjalanan hidup yang akan dilalui buah hati yang dicinta, bila tidak penuh kehati-hatian dan waspada. Gambaran kehidupan antara bunda yang penuh perhatian terhadap buah hatinya tersebut senantiasa dijumpai. Untuk itu tidak salah, bila adegan yang sering muncul di tengah-tengah kehidupan antara bunda dengan buah hatinya diangkat dan disimak bersama yang akan diambil hikmah pelajarannya. Dalam adegan keseharian itu, kita dapat melihat bagaimana bunda dengan seraut wajahnya.</p>
<p><em>Di suatu saat di tengah-tengah kehidupan ini</em><br />
<em>Tampak seraut wajah dalam keanggunan bersahaja menggambarkan ketulusan kasihnya.</em><br />
<em>Disusul hadirnya seraut wajah dalam kesombongan yang sok mengerti namun sebenarnya bodoh sekali.</em><br />
<em>Dua raut wajah yang tampil dalam keseharian itu adalah seorang bunda dengan buah hati kecintaannya.</em><br />
<em>Tegur sapa antara bunda dengan buah hati kecintaannya, yang dalam masa pertumbuhan sering kali terjadi.</em><br />
<em>Bundapun bertanya kepada buah hati kecintaan yang suka bermain-main di luar rumah.</em><br />
<em>Hai anakku maukah kau membantu ibu? </em><em>Diam sambil berwajah muram dan masam sambutan sang anak.</em><br />
<em>Dengan nada rendah bundapun berseru: “Tolonglah dibantu pekerjaan ibu sedikit !”</em><br />
<em>Sang anakpun berangkat membantu bunda, namun tidak dengan kelegaan hati tetapi karena terpaksa.</em><br />
<em>Melihat sikap anak bekerja dengan terpaksa, bunda hanya mengurut dada sambil menggeleng kepala.</em><br />
<em>Sifat bunda indah yang penuh kasih, tidak mau memaksa buah hatinya bekerja dengan terpaksa.</em><br />
<em>Perlahan bundapun mendekat pada anaknya sambil berkata:”Tinggalkan saja pekerjaan itu</em><br />
<em>Biarlah ibu nanti yang akan menyelesaikannya”.</em><br />
<em>Pergilah bermain-main dahulu di luar sana, banyak teman-temanmu memanggil dan menunggu.</em><br />
<em>Demikianlah akhir dari adegan keseharian dengan berkesudahan sang anak pergi bermain.</em><br />
<em>Dalam hal ini bisikan hati kita tentu akan mengatakan:</em><br />
<em>“Betapa bodohnya si anak bersikap menanggapi uluran kasih ibunya”.</em></p>
<p><em>Pada saat yang berlainan kitapun akan menjumpai suatu adegan yang juga sering kali terjadi, yakni</em><br />
<em>Seraut wajah dalam keanggunan bersahaja menggambarkan ketulusan kasihnya</em><br />
<em>Disusul seraut wajah dalam kepolosan menggambarkan keterbukaan dirinya menerima petuah.</em><br />
<em>Dua raut wajah itupun gambaran seorang bunda dengan buah hati kecintaannya dalam masa pertumbuhan.</em><br />
<em>Tegur sapa nan akrab tampak terjalin antara bunda dengan buah hati kecintaannya.</em><br />
<em>Setiap saat sang buah hati selalu bertanya ini dan itu kepada bundanya gambaran kepolosan dirinya.</em><br />
<em>Bila ibunda melakukan pekerjaan sesuatu, sang buah hati selalu ingin membantu tanpa diminta.</em><br />
<em>Dengan sikap manja sang buah hati bertanya pada bunda :”Bu, boleh saya membantu pekerjaan ibu?”</em><br />
<em>Karena tulusnya sang anak ingin membantu bunda, membuat terharu dan bertambah cintanya.</em><br />
<em>Bundapun menjawab pertanyaan buah hati:”Hai anakku, kau masih terlalu kecil untuk membantu ibu”.</em><br />
<em>Rasa kecewa memancar di wajah sang anak, bundapun tak sampai hati melihat buah hatinya merajuk.</em><br />
<em>Dengan senyum manis bundapun berkata :”Mari, mari bantu pekerjaan ibu yang ini saja”.</em><br />
<em>Kembali keceriaan terukir di wajah buah hati nan polos, lalu bersama-sama bunda melakukan pekerjaan.</em><br />
<em>Demikian sikap buah hati tulus bekerja membantu ibu menambah tercurahnya cinta dan kasih bunda.</em></p>
<p>Demikianlah gambaran hubungan antara bunda dengan buah hatinya yang dapat diperhatikan bersama dalam kehidupan ini. Gambaran atau adegan pertama menunjukan atau menggambarkan seorang anak yang enggan membantu ibunya. Keengganan sang anak disebabkan hati sang anak lebih tertarik pada himbauan teman-teman yang berada di luar rumah. Sedangkan gambaran yang berikutnya merupakan gambaran seorang anak yang penuh kasih dan menaruh cinta pada ibunya. Dua gambaran tersebut bila direnungkan dengan hati yang bersih akan menyentuh bangkitnya kesadaran dan rasa hati. Sehingga akan terhayati sebagai satu sajian pendidikan yang sangat halus dari Robb kepada setiap diri yang menyaksikannya. Pada akhirnya akan membawa kita berkaca diri, apakah selama ini diri termasuk gambaran si buah hati yang menaruh cinta terhadap bunda ataukah bekerja membantu bunda dengan terpaksa. Namun yang pasti gambaran seorang bunda yang berwajah anggun bersahaja merupakan sifat gambaran Allah SWT yang penuh kasih terhadap hamba-Nya. Sedangkan gambaran si buah hati yang bekerja dengan terpaksa membantu bunda, itulah sifat kebanyakan manusia yang senantiasa melakukan sesuatu bukan karena Allah SWT melainkan karena terpaksa dalam arti segala sesuatu dilakukan dasarnya bukan karena ketulusan melainkan karena pamrih. Demikian itulah gambaran kebanyakan sifat manusia hari ke hari hanya keburukan kian lebar terpandang, tak sedikitpun ada tanda-tanda kebaikan. Wajar bila muncul kesadaran akan kepemurahan sekaligus kepemaafan Allah SWT yang senantiasa mengucurkan rahmat dan memudahkan jalan menuju kebaikan. <strong><em>Namun sangat disayangkan banyak manusia khususnya ummat islam yang menyia-nyiakan berbagai kemurahan dan kebaikan yang Allah SWT berikan</em>.</strong> Hal ini tampak dari keengganan ummat islam untuk beramal dengan tulus.</p>
<p>Memang bagi anak yang jiwanya masih suka bermain-main dengan anak-anak lain di luar rumah, sulit baginya untuk memahami sikap bunda yang menghimbau si buah hatinya agar dapat membantu pekerjaan sang bunda. Tetapi perhatikanlah sikap si buah hati yang menaruh perhatian dan cinta mendalam terhadap bundanya, sebelum bunda meminta untuk di bantu, sang buah hati telah lebih dulu menawarkan dirinya. kadangkala sering terjadi saking senangnya si buah hati membantu bunda, hal-hal yang belum saatnya dikerjakan oleh si buah hati, juga diminta oleh si buah hati. Hal ini jelas betapa sikap polosnya sikap si buah hati terhadap bunda yang sangat dicintainya. Demikian pula manusia khususnya ummat islam, apakah akan tampil laksana buah hati yang bekerja dengan merajuk dan terpaksa ataukah tampil selaku buah hati yang bekerja dengan kepolosan dirinya dengan dijiwai kecintaan dalam terhadap bunda. Bila manusia khususnya ummat islam tampil sebagai anak yang bekerja dengan kepolosan yang dilandasi kecintaan terhadap bunda, mana buktinya? <strong><em>Kenyataan himbauan bermain-main yang dilakukan iblis lebih disukai</em>. </strong>Buktinya berapa banyak kepingan-kepingan rahmat yang Allah SWT turunkan ternyata tak dapat dimanfaatkan dengan baik untuk mengisi perjalanan hidup ini. Beginikah cara sikap seorang anak yang bekerja dengan tulus? Tercecer-cecer pekerjaan bunda tak menaruh kasih. Siapakah sebenarnya anak-anak yang selalu menghimbau untuk bermain-main di luar rumah? Tidak lain adalah sesuatu yang lebih dicintai selain Allah SWT, Sesuatu inipun sangat enggan untuk dikorbankan, mengingat sesuatu itu merupakan kepentingan bagi nafsu. Dalam hal ini sesuatu tersebut dapat saja: berupa pekerjaan-pekerjaan yang menyita waktu agar tak dapat berbuat kebaikan, rengekan anak dan istri agar selalu mendapat perhatian penuh, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang selalu memalingkan hati dari hal-hal yang Allah SWT ridhoi.</p>
<p>Untuk itu mari kita fahami bersama firman Allah SWT :</p>
<p dir="rtl">يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلىَ تِجرَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ {} تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُجهِدُوْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ بِأَمْواَلِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذاَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ﴿ الصف : 10 – 11﴾</p>
<p><strong></strong><em>Hai orang-orang yang beriman, sukakkah kamu aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rosul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, (Q.S. 61:10 -11)</em></p>
<p>Sedangkan maksud dilakukan jihad pengorbanan harta dan jiwa di jalan Allah SWT tidak lain dalam rangka menjemput apa yang dijanjikan Allah SWT sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya:</p>
<p dir="rtl">يَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنتٍِ تَجْرِىْ مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ وَمَسكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنّتٍ عَدْنٍ ذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ﴿ الصف : 12﴾<br />
<em>“</em><em>Niscaya Allah SWT akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar”. </em>(Q.S. 61:12)</p>
<p>Maka yang dimaksud sungai-sungai dalam penjelasan firman Allah SWT tersebut sebenarnya merupakan suatu simbol. Dalam hal ini sungai sering kali disimbolkan sebagai pengertian keilmuan-keilmuan yang mengalir membawa kesejukan dan kesegaran untuk kehidupan.</p>
<p dir="rtl">وَأُخْرَى تُحِبُّوْنَهَا نَصْرٌ مِنَ اللهِ وَفَتْحٌ قَرِيْبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ ﴿ الصف : 13﴾</p>
<p><strong></strong>“ <em>(ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah SWT dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.</em> “ <em></em>(Q.S. 61:13)</p>
<p>Maka inilah yang dihimbaukan oleh Isa putra Maryam pada surah Ash-Shaf ayat 14 tersebut pada halaman muka (Q.S. 61:14). Adakah tersentuh rasa-rasa manusia khususnya ummat islam untuk mau membantu kejayaan dien Allah SWT. Dalam hal ini hanya sebagian sajalah di antara pengikut nabi Isa A.S. yang mau membantu dengan ketulusan dan kesungguhan, sedangkan sebagian lagi membantu dengan sambil bermain-main. Bukti membantu dengan bermain-main adalah panggilan untuk menegakkan kalimah Allah SWT senantiasa terabaikan, belum lagi pekerjaan-pekerjaan yang bersifat di jalan Allah tidak sedikit yang terabaikan manusia khususnya ummat Islam; masih ditambah lagi dengan keterpaksaan berkorban harta. Sebenarnya apapun yang dilakukan manusia bukanlah untuk kebaikan Allah SWT tetapi semua kebaikan yang dilakukan manusia akan kembali secara utuh kepada manusia, bahkan akan dikembalikan Allah SWT dengan sangat berlipat ganda. Dengan demikian bukankah telah jelas bagi kita, apa yang kita bantukan, baik jiwa maupun harta sebenarnya bukan untuk Allah SWT. Tetapi semua utuh kembali kepada diri kita masing-masing. Dalam hal ini janganlah kita beranggapan bahwa Allah tak mampu melakukan ini dan itu sehingga Allah terpandang mengemis dan memaksa manusia untuk membantu kejayaan dien-Nya. Ketahuilah! Allah Dialah Yan Maha Kaya, sekalipun semua mahluk di muka bumi enggan membantu kejayaan dien Dia Allah SWT, Allah SWT sendiri dapat melakukannya. Ini berarti tidak ada kesempatan bagi manusia untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kesengsaraan yang mengintai.</p>
<p>Memang seorang anak yang sok mengerti bila dihimbau oleh bunda agar berkenan membantu bunda, dalam pandangan anak tersebut sang bunda tak dapat melakukan pekerjaan tersebut. Padahal dimaksudkan bunda menghimbau anaknya agar terjalin keakraban dan saling cinta-mencintai dengan ketulusan yang dalam antara bunda dan buah hati kesayangan. Beda halnya dengan si anak yang membantu dengan tulus, tak pernah sedikitpun terbesit bahwa bunda tak dapat melakukannya sendirian, Namun dirasakan oleh si buah hati tersebut dengan banyak membantu bunda terasa semakin dekat dan akrab jalinan yang terjadi.</p>
<p>sumber: <a href="http://hikmahrenunganmalam.wordpress.com/2007/10/28/dengan-ketulusan-berjihad-fii-sabiilillah-dekatkan-jalinan-hubung-hamba-dengan-robb/">http://hikmahrenunganmalam.wordpress.com/2007/10/28/dengan-ketulusan-berjihad-fii-sabiilillah-dekatkan-jalinan-hubung-hamba-dengan-robb/</a></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ciget95.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ciget95.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ciget95.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ciget95.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ciget95.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ciget95.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ciget95.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ciget95.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ciget95.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ciget95.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ciget95.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ciget95.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ciget95.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ciget95.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=76&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/dengan-ketulusan-berjihad-fii-sabiilillah-dekatkan-jalinan-hubung-hamba-dengan-robb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce2e6bd6913c9ee34316ce4a4504a53e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kara07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zakat Fitrah: Sesuatu yang Istimewa</title>
		<link>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/zakat-fitrah-sesuatu-yang-istimewa/</link>
		<comments>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/zakat-fitrah-sesuatu-yang-istimewa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 13:38:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kara07</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciget95.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat zakat adalah proses penyucian diri yang berdimensi kemanusiaan. Di satu sisi, zakat merupakan wujud ketaatan pada perintah Allah sebagai konsekuensi pernyataan keimanan. Selain itu juga merupakan penegasan bahwa dalam Islam, setiap ritual selalu mempunyai dimensi sosial yang menyentuh sisi kemanusiaan secara langsung. Berbicara tentang zakat, ada sesuatu yang special dengan Zakat Fitrah. Berbeda dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=73&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Hakikat zakat adalah proses penyucian diri yang berdimensi kemanusiaan. Di satu sisi, zakat merupakan wujud ketaatan pada perintah Allah sebagai konsekuensi pernyataan keimanan. Selain itu juga merupakan penegasan bahwa dalam Islam, setiap ritual selalu mempunyai dimensi sosial yang menyentuh sisi kemanusiaan secara langsung.<span id="more-73"></span></p>
<p>Berbicara tentang zakat, ada sesuatu yang special dengan Zakat Fitrah. Berbeda dengan zakat-zakat lainnya yang lebih berfungsi untuk “membersihkan harta”, zakat fitrah adalah satu-satunya zakat yang diwajibkan bagi setiap muslim untuk “menyucikan jiwa”. Oleh karena itu, zakat fitrah tidak saja diwajibkan bagi mereka yang kaya, akan tetapi juga bagi mereka yang kurang berkecukupan. Jadi meskipun orang itu ‘miskin’ menurut kategori umum, dia tetap wajib membayar zakat fitrah namun dia pun berhak menerima zakat fitrah.</p>
<p>Zakat fitrah selain berfungsi melengkapi puasa Ramadhan, juga berfungsi menyambut lebaran Idul Fitri. Karena itu, fungsi kedua dari zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan dengan fakir miskin. Dua hikmah ini, dengan baik disampaikan oleh Ibn Abbas: “RasululLah men-fardhukan zakat fitrah untuk menyucikan diri seorang yang puasa dari al-laghw dan rafats, dan untuk memberi makan orang-orang miskin.”<br />
Fungsi kedua dari zakat fitrah ini meniscayakan pendistribusian zakat tersebut untuk fakir miskin, agar di hari raya idul fitri mereka juga merasakan kebahagiaan seperti yang lainnya, tidak bersedih karena tidak bisa makan di hari itu. Meskipun di dalam ayat tentang zakat disebutkan ada 8 kelompok mustahiq zakat, namun khusus untuk yang zakat fitrah lebih diutamakan kepada fakir miskin.</p>
<p>Siapa aja yang harus berzakat fitrah?<br />
Zakat fitrah diwajibkan bagi setiap muslim (laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak) sebagaimana diungkapkan Ibn Umar, dalam riwayat Imam Bukhari: RasululLah men-fardhukan zakat fitrah, satu “shaa” dari kurma, atau satu “shaa” dari biji sya’ir, kepada orang yang bebas dan seorang hamba sahaya (budak), laki-laki dan perempuan, anak-anak dewasa dari mereka yang beragama Islam. Syarat wajib lainnya adalah muslim tersebut sempat menyaksikan Ramadhan dan malam 1 Syawal juga mempunyai kelebihan rizki untuk mengeluarkan zakat fitrah, paling tidak ketika di malam 1 Syawal. So, bayi yang lahir sesaat sebelum maghrib di hari terakhir Ramadhan juga termasuk wajib zakat.</p>
<p>Berapa ukuran zakat fitrah?<br />
Zakat fitrah ini tujuan utamanya untuk mengenyangkan fakir miskin sehari saja, yaitu pada hari raya Idul Fitri. Karena itu besarnya pun tidak seberapa. Diriwayatkan oleh Ibn Umar, ”RasululLah men-fardhukan zakar fitrah dari Ramadhan, satu “shaa” buah korma atau satu “shaa” dari biji sya’iir. ” Hadits ini menjadi pijakan mayoritas ulama dalam menentukan kadar zakat fitrah, yakni satu shaa’ dari makanan pokok setempat.<br />
Berapa satu shaa? Satu shaa sama dengan empat “mud”. Satu mud sama dengan 0. 688 liter. Jadi satu shaa adalah 2. 752 liter. Demikian ukuran yang dapat dilacak dari batasan Nabi. Beliau tidak menggunakan ukuran berat (kilo), tapi volume (liter). Batasan yang demikian ini kemudian memang menyulitkan, karena tidak setiap bahan makan sama beratnya. Dengan asumsi densitas beras lebih besar daripada kurma tentunya satu liter beras akan lebih berat dari satu liter kurma. (belom lagi kalo kurmanya gedhe-gedhe sehingga porositas bulknya besar <img src="http://ciget.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /> )<br />
Maka dapat dimengerti jika ukuran zakat fitrah diperselisihkan di antara ulama. Tapi ada satu hal yang tak perlu diperdebatkan, yakni diperbolehkannnya membayar lebih dari batas ketentuan, bahkan sudah barang tentu dianjurkan.</p>
<p>Bisa ga membayar dengan uang?<br />
Di berbagai negara Islam, zakat fitrah tidak dikeluarkan dari bahan makanan, akan tetapi dari nilai tukar (qiimah) bahan makanan tsb. Selain memudahkan si pembayar zakat, mengeluarkan zakat dalam bentuk nilai juga dipandang lebih bermanfaat bagi fakir miskin. Walaupun pendapat diperbolehkannya membayar nilai tukar hanya diwakili oleh madzhab Hanafi, namun perkembangan di tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa berbagai kalangan justru memilihnya. Sementara madzhab Maliki, Syafii dan Hanbali, yang melarang pembayaran tersebut tidak lagi banyak dijalankan.</p>
<p>Dari sudut pandang fiqih humanis kontemporer, perlu kiranya dipahami bahwa zakat fitrah yang dianjurkan senilai dengan yang dimakan setiap orang dalam sekali makan, memiliki pesan dinamik karena daya konsumsi makan masing-masing orang berbeda. Tentunya tidak adil bila seseorang yang biasa menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk sekali makan hanya membayar zakat fitrah senilai satu shaa bahan makanan. Bukankah dia juga bakal males kalau disuruh makan yang hanya senilai satu shaa bahan makanan?</p>
<p>Kapan musti bayar?<br />
Zakat fitrah diwajibkan untuk menyempurnakan puasa Ramadhan, dan untuk menyambut Idul Fitri. Karena itu, diwajibkan setelah berakhirnya puasa, dan memasuki Idul Fitri. Disunahkan membayarnya pada hari Idul Fitri sebelum salat Id berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., “Rasulullah saw. memerintahkan membayar zakat fitrah sebelum orang berangkat salat.” (H.R. Jamaah).</p>
<p>Sebagian ulama menetapkan permulaan waktu zakat fitrah setelah terbenamnya matahari di akhir Ramadhan, dan sebagian lain menetapkannya setelah terbit fajar di pagi harinya (tgl 1 Syawal). Sementara waktu akhir pembayaran, sebagian ulama menutupnya hingga salat Id, dan sebagian lain memperpanjang hingga sehari penuh di hari lebaran. Pengeluaran zakat setelah itu dianggap qadha, seperti menjalankan salat subuh setelah terbitnya matahari.</p>
<p>Gimana kalo bayar zakat fitrah sebelum berakhirnya bulan Ramadhan?<br />
Diantara ulama yang mempelopori tidak diperbolehkannya pembayaran zakat sebelum waktunya adalah Imam Ibn Hazm. Menurutnya, tak satupun zakat yang diperbolehkan mengeluarkannya sebelum waktu. Memang afdhalnya zakat fitrah dibayarkan setelah berakhirnya bulan puasa dan memasuki Idul Fitri namun pada prakteknya berbagai kalangan sahabat justru tidak melakukannya sehingga pendapat Ibn Hazm banyak ditinggalkan.</p>
<p>Namun begitu, para ulama yang memperbolehkan “ta’jil” (membayar zakat lebih awal dari waktunya) berselisih pendapat mengenai batas waktunya. Imam Syafi’i memperbolehkan pembayaran zakat sejak awal Ramadhan, karena Ramadhan adalah salah satu dari dua sebab zakat. Ahmad bin Hanbal dan Imam Malik membatasinya hanya satu-dua hari menjelang Idul Fitri. Sebagian Malikiyah membatasinya dengan tiga hari menjelang Id. Sebagian Hanabilah, memperbolehkan pembayaran zakat hingga pada pertengahan bulan Ramadhan.</p>
<p>Melihat pendapat-pendapat yang ada ini, mungkin bisa ditawarkan sbb: 1. Panitia bisa memungut harta zakat mulai pertengahan bulan. Lebih mendekati hari raya lebih baik. 2. Harta zakat didistribusikan kepada fakir-miskin (diterima oleh mereka) di hari lebaran, atau menjelang lebaran pada kisaran 1-2-3 hari. Lebih dekat kepada Idul Fitri semakin baik karena tujuan zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan di hari lebaran.</p>
<p>Bolehkah membagikan zakat ke luar daerah dimana zakat dipungut?<br />
Bisa dikemukakan bahwa pola distribusi zakat mengikuti sistem “otonomi daerah”. Harta yang dihasilkan satu daerah pendistribusiannya diutamakan untuk daerah itu sendiri seperti tertuang dalam hadits “Zakat itu diambil dari orang kaya di kalangan mereka dan dikembalikan (dibayarkan) kepada kaum fakirnya”.</p>
<p>Dalam satu riwayat, RasululLah saw. mendelegasikan sahabat Muadz bin Jabal, untuk menarik harta zakat dari orang-orang kaya di daerah Yaman, dan membagikannya kepada kaum fakir miskin di daerah tersebut. Kebijakan RasululLah ini, yang memerintahkan agar membagikan harta zakat kepada fakir-miskin dimana zakat dipungut, juga dijalankan sahabat Muadz saat ia menjadi pejabat di masa Abu Bakar ra dan Umar bin Khaththab ra. Namun pada suatu ketika, di era Umar ra, ia mengirimkan harta zakat ke Madinah, pusat pemerintahan Umar ra. Mula-mula Umar ra menolaknya, namun kemudian menerimanya setelah Muadz ra. menyatakan bahwa dia tidak menemukan seorangpun yang berhak menerima zakat di Yaman.</p>
<p>Riwayat di atas, menjadi rujukan ulama untuk menentukan hukum boleh-tidaknya, dan juga sah-tidaknya, memindahkan harta zakat dari tempat dipungut ke tempat yang lain. Secara umum, bolah boleh saja mengalihkan zakat fitrah ke luar tempat tinggal orang yang mengeluarkannya bila di negeri itu terdapat orang yang lebih membutuhkan dan jika hal tersebut dapat mewujudkan maslahat yang lebih besar bagi kaum muslimin, atau jika lebih dari kebutuhan kaum fakir yang ada di negerinya.<br />
sumber:http://cafe.degromiest.nl/wp/archives/124</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ciget95.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ciget95.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ciget95.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ciget95.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ciget95.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ciget95.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ciget95.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ciget95.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ciget95.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ciget95.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ciget95.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ciget95.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ciget95.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ciget95.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=73&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/zakat-fitrah-sesuatu-yang-istimewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce2e6bd6913c9ee34316ce4a4504a53e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kara07</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ciget.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hikmah Nuzulul Qur’an</title>
		<link>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/hikmah-nuzulul-quran/</link>
		<comments>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/hikmah-nuzulul-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 13:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kara07</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciget95.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Hikmah Nuzulul Qur’an – Dalam pembahasan Nuzulul Qur’an menurut Berbagai Madzab kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an diturunkan ke Baitul Izzah secara langsung. Dari Baitul Izzah itulah, Al-Qur’an kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW. Nuzulul Qur’an yang kemudian diperingati oleh sebagian kaum muslimin mengacu kepada tanggal pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW di gua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=65&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hikmah Nuzulul Qur’an – Dalam pembahasan Nuzulul Qur’an menurut Berbagai Madzab kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an diturunkan ke Baitul Izzah secara langsung. Dari Baitul Izzah itulah, Al-Qur’an kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW.</p>
<p>Nuzulul Qur’an yang kemudian diperingati oleh sebagian kaum muslimin mengacu kepada tanggal pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW di gua Hira. Jika sebagian besar umat Islam di Indonesia meyakini 17 Ramadhan sebagai tanggal Nuzulul Qur’an, Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury menyimpulkan Nuzulul Qur’an jatuh pada tanggal 21 Ramadhan.<span id="more-65"></span></p>
<p>Lepas dari berapa tanggal sebenarnya, Nuzulul Qur’an dalam arti turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW secara bertahap atau berangsur-angsur itu memiliki beberapa hikmah sebagai berikut:</p>
<p>1. Meneguhkan hati Rasulullah dan para sahabat<br />
Dakwah Rasulullah pada era makkiyah penuh dengan tribulasi berupa celaan, cemoohan, siksaan, bahkan upaya pembunuhan. Wahyu yang turun secara bertahap dari waktu ke waktu menguatkan hati Rasulullah dalam menapaki jalan yang sulit dan terjal itu.</p>
<p>Ketika kekejaman Quraisy semakin menjadi, Al-Qur’an menyuruh mereka bersabar seraya menceritakan kisah para nabi sebelumnya yang pada akhirnya memperoleh kemenangan dakwah. Maka, seperti yang dijelaskan Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam Rakhiqul Makhtum, Al-Qur’an menjadi faktor peneguh mengapa kaum muslimin sangat kuat menghadapi cobaan dan tribulasi dakwah dalam periode Makkiyah.</p>
<p>Di era madaniyah, hikmah ini juga terus berlangsung. Ketika hendak menghadapi perang atau kesulitan, Al-Qur’an turun menguatkan Rasulullah dan kaum muslimin generasi pertama.</p>
<p>2. Tantangan dan Mukjizat<br />
Orang-orang musyrik yang berada dalam kesesatan tidak henti-hentinya berupaya melemahkan kaum muslimin. Mereka sering mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh dengan maksud melemahkan kaum muslimin. Pada saat itulah, kaum muslimin ditolong Allah dengan jawaban langsung dari-Nya melalui wahyu yang turun.</p>
<p>Selain itu, Al-Qur’an juga menantang langsung orang-orang kafir untuk membuat sesuatu yang semisal dengan Al-Qur’an. Nyanta, walaupun Al-Quran turun berangsur-angsur, tidak seluruhnya, toh mereka tidak mampu menjawab tantangan itu. Ini sekaligus menjadi bukti mukjizat Al-Qur’an yang tak tertandingi oleh siapapun.</p>
<p>3. Memudahkan Hafalan dan Pemahamannya<br />
Dengan turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, maka para kaum muslimin menjadi lebih mudah menghafalkan dan memahaminya. Terlebih, ketika ayat itu turun dengan latar belakang peristiwa tertentu atau yang diistilahkan dengan asbabun nuzul, maka semakin kuatlah pemahaman para sahabat.</p>
<p>4. Relevan dengan Pentahapan Hukum dan Aplikasinya<br />
Sayyid Quthb menyebut para sahabat dengan “Jailul Qur’anil farid” (generasi qur’ani yang unik). Diantara hal yang membedakan mereka dari generasi lainnya adalah sikap mereka terhadap Al-Qur’an. Begitu ayat turun dan memerintahkan sesuatu, mereka langsung mengerjakannya. Interaksi mereka dengan Al-Qur’an bagaikan para prajurit yang mendengar intruksi komandannya; langsung dikerjakan segera.</p>
<p>Diantara hal yang memudahkan bersegeranya para sahabat dalam menjalankan perintah Al-Qur’an adalah karena Al-Qur’an turun secara bertahap. Perubahan terhadap kebiasaan atau budaya yang mengakar di masyarakat Arab pun dilakukan melalui pentahapan hukum yang memungkinkan dilakukan karena turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur ini. Misalnya khamr. Ia tidak langsung diharamkan secara mutlak, tetapi melalui pentahapan. Pertama, Al-Qur’an menyebut mudharatnya lebih besar dari manfaatnya (QS. 2 : 219). Kedua, Al-Qur’an melarang orang yang mabuk karena khamr dari shalat (QS. 4 : 43). Dan yang ketiga baru diharamkan secara tegas (QS. 5 : 90-91).</p>
<p>5. Menguatkan bahwa Al-Qur’an benar-benar dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji<br />
Ketika Al-Qur’an turun berangsur-angsur dalam kurun lebih dari 22 tahun, kemudian menjadi rangkaian yang sangat cermat dan penuh makna, indah dan fasih gaya bahasanya, terjalin antara satu ayat dengan ayat lainnya bagaikan untaian mutiara, serta ketiadaan pertentangan di dalamnya, semakin menguatkan bahwa Al-Qur’an benar-benar kalam ilahi, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.<br />
sumber: http://muchlisin.blogspot.com/2011/08/hikmah-nuzulul-quran.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ciget95.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ciget95.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ciget95.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ciget95.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ciget95.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ciget95.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ciget95.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ciget95.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ciget95.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ciget95.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ciget95.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ciget95.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ciget95.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ciget95.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=65&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/hikmah-nuzulul-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce2e6bd6913c9ee34316ce4a4504a53e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kara07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan dan Nuzulul Qur’an</title>
		<link>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/ramadhan-dan-nuzulul-quran/</link>
		<comments>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/ramadhan-dan-nuzulul-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 13:26:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kara07</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciget95.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia bila dibandingkan dengan bulan yang lain. Karena di dalam bulan Ramadhan ada Lailatul Qadar, segala dosa umat manusia diampuni dan segala amal perbuatan kebaikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Swt. dan di dalam bulan Ramadlan al-Qur’an pertama kali di turunkan. Peristiwa tersebut tidak pernah ada pada selain bulan Ramadhan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=63&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia bila dibandingkan dengan bulan yang lain. Karena di dalam bulan Ramadhan ada Lailatul Qadar, segala dosa umat manusia diampuni dan segala amal perbuatan kebaikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Swt. dan di dalam bulan Ramadlan al-Qur’an pertama kali di turunkan. Peristiwa tersebut tidak pernah ada pada selain bulan Ramadhan. Selain kitab al-Qur’an Allah juga menurunkan kitab-kitab samawi yang lain seperti kitab Taurot, Zabur dan Injil. Hanya saja hukum syariat Islam yang tertuang di dalam masing-masing kitab tersebut satu sama lain tidak sama tetapi dalam masalah ketauhidan (ketuhanan) semua kitab sama yakni sama-sama mengajarkan kepada umat manusia agar menyembah dan meng-Esa-kan Allah SWT.<span id="more-63"></span><br />
Al-Qur’an adalah mukjizat nabi Muhammad Saw yang paling agung bila dibandingkan dengan Mukjizat-mukjizat yang lain yang dimiliki oleh beliau Nabi dan atau bila dibanding dengan mukjizat-mukjizat lain yang dimiliki oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad. Adalah wajar jika sampai saat ini bahkan sampai hari kiamat nanti keaslian al-Qur’an masih tetap terjaga. Karena mustahil tidak ada satu orangpun di dunia ini yang dapat memalsukan/merubah ayat-ayat al-Qur’an apalagi mampu menyaingi keindahan kalam-kalam al-Qur’an. Seorang orientalis Barat yang bernama H.A.R Gibb pernah mengatakan bahwa “ Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini yang telah memainkan alat bernada nyaring yang sedemikian nyaring dan indah serta sedemikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang di baca Muhammad (al-Qur’an)”. Itulah barangkali salah satu bukti keagungan al-Qur’an.<br />
Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diberikan Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw. 14 abad yang silam. al-Qur’an memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh mukjizat yang lain yang hanya bisa dinikmati dan disaksikan pada zamannya saja. Sejak pertama kali diturunkan al-Qur’an telah mampu merubah arah dan paradigma peradaban ummat manusia dari kesesatan menuju kebenaran dan kebahagian dunia maupun akhirat. Hal ini merupakan salah satu pengaruh ajaran dan ilmu pengetahuan yang terkandung dalam al-Qur’an.<br />
Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada malam Lailatul Qadar tanggal, 17 Ramadhan tepatnya saat beliau Nabi Muhammad Saw berusia 40 tahun. al-Qur’an diturunkan ke bumi tidak sama dengan kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan hanya satu kali langsung selesai. Tetapi al-Qur’an diturunkan dengan cara berangsur-angsur atau sedikit demi sedikit (bertahap) sesuai dengan kebutuhan atau sesuai dengan permasalah yang terjadi saat itu untuk memberikan jawaban atas permasalah yang dihadapi para Sahabat nabi kala itu.<br />
Al-Qur’an diturunkan (Nuzulul Qur’an) membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Apa hikmahnya? Adalah untuk menguatkan rasa cinta hati nabi Muhammad dan para sahabat nabi agar selalu merasa senang setiap kali turunnya ayat al-Qur’an. Disamping itu, al-Qur’an diturunkan dengan cara berangsur-angsur agar supaya para sahabat lebih mudah menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an yang telah diturunkan lebih dahulu.<br />
al-Qur’an diturunkan ada kalanya yang mempunyai sebab (Asbab an-Nuzul) seperti ayat al-Qur’an yang diturunkan untuk menjawab sebuah pertanyaan dari permasalah yang dihadapi para sahabat Nabi kala itu, ataupun pertanyaan yang disampaikan oleh orang-orang kafir. Namun ada juga ayat al-Qur’an yang diturunkan tetapi tidak mempunyai Asbab an-Nuzul seperti ayat al-Qur’an yang diturunkan untuk menceritakan umat-umat Nabi terdahulu atau menjelaskan tentang perkara-perkara gaib yang akan terjadi di hari nanti. Seperti ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang surga atau neraka, ataupun ayat al-Qur’an yang menggambarkan tentang kejadian hari kiamat nanti, ayat-ayat al-Qur’an yang seperti itu diturunkan tidak mempunyai \Asbab an-Nuzul. Ayat al-Qur’an seperti itu, diturunkan oleh Allah dimaksudkan untuk memberikan hidayah kepada umat manusia agar mau mengambil hikmah dari semua kejadian yang diceritakan oleh al-Qur’an terutama ayat al-Qur’an yang menceritakan tentang adzab, musibah dan bencana dari Allah yang diturunkan kepada ummat-ummat terdahulu yang merupakan akibat dari perbuatan dosa yang telah mereka lakukan. Sehingga kita semua mau kembali ke jalan yang benar yang diridhoi oleh Allah Swt untuk tidak melakukan dosa dan maksiat kepada Allah Swt.<br />
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt. sebanyak 30 juz, 114 surah, 6.236 ayat. Isi kandungannya dibagi menjadi tiga bagian. Sebagian dari isi al-Qur’an menjelaskan tentang sifat wajib Allah. Sebagian yang lain isi kandungan al-Qur’an menjelaskan tentang hukum-hukum syariat Islam dan sebagian diantaranya menceritakan tentang kejadian dan perilaku umat nabi terdahulu baik umat yang beriman kepada Allah ataupun umat yang inkar kepada-Nya.<br />
Ada sebuah pertanyaan yang sangat sederhana. al-Qur’an adalah kalamullah (Firman Allah), Kalamullah secara tinjauan ilmu tauhid adalah sesuatu yang tidak ada huruf dan tidak ada suaranya, ( Maa laisa biharfin walaa sautin ) tapi kenapa al-Qur’an yang merupakan kalamullah ternyata ada huruf dan ada suaranya bila dibaca? Dalam sebuah keterangan dijelaskan bahwa kalamullah terbagi menjadi 2 (dua) bagian:<br />
1. Ada kalamullah sebangsa sifat yang maha terdahulu yang melekat pada dzatnya Allah. Kalamullah seperti itu yang tidak ada huruf dan suaranya;<br />
2. Ada Kalamullah sebangsa lafadz yang diturunkan kepada para Nabi/Rasul, Kalamullah yang seperti ini yang ada huruf dan suaranya. Seperti al-Qur’an, Taurot, Injil dan Zabur.<br />
Untuk itu, dengan momentum bulan Ramadlan ini mari kita sama-sama untuk membudayakan agar rumah, kantor, masjid/mushola dan sekolahkita selalu dihiasi dengan bacaan al-Qur’an. Jadikan generasi muda kita generasi yang cinta al-Qur’an, jadikan hidup kita agar selalu berpegang teguh dengan ajaran al-Qur’an. Insya Allah semakin sering kita membaca dan mengamalkan perintah al-Qur’an semakin besar harapan kita untuk mendapatkan syafa’at dari al-Qur’an di hari Kiamat nanti. Amiin.<br />
sumber: http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=1287:ramadhan-dan-nuzulul-quran&amp;catid=15:pengajian&amp;Itemid=63</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ciget95.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ciget95.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ciget95.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ciget95.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ciget95.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ciget95.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ciget95.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ciget95.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ciget95.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ciget95.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ciget95.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ciget95.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ciget95.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ciget95.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mr.ciget95.wordpress.com&amp;blog=2941280&amp;post=63&amp;subd=ciget95&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ciget95.wordpress.com/2011/12/06/ramadhan-dan-nuzulul-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce2e6bd6913c9ee34316ce4a4504a53e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kara07</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
